Pikiran Cemas

Ketika seseorang mempersepsikan dirinya berada dalam sebuah bahaya yang tak bisa terelakkan, maka besar kemungkinannya dia akan merasakan kecemasan. Namun, sebagaimana jargon yang saya pelajari dalam Cognitive Behavioral Therapy “setiap kasus itu perlu dibuat konseptualisasinya, karena bisa berbeda dari satu individu ke individu lainnya”. Begitu pula yang jadi tema besar pada tulisan ini, bahaya yang dimaknai seseorang akan sangat berbeda dengan orang lainnya. Bahkan, sebuah ancaman yang berpotensi bahaya, bisa juga berbeda dari satu zaman ke zaman lainnya.


Dahulu, yang jadi sumber bahaya lebih kepada ancaman fisik, seperti peperangan, kelaparan, penyakit dan sejenisnya. Sekarang sepertinya yang lebih menjadi sumber bahaya adalah ancaman yang sifatnya psikologis, seperti pengakuan sosial, followers, eksistensi, viral, self-esteem dan berbagai hal serupa lainnya. Tentunya perubahan ini sejalan dengan pertumbuhan pesatnya informasi, terutama dari internet dan media sosial. Dan jangan lupa, bahwa apa yang bahaya buat kita, belum tentu bahaya buat orang lain. Ada orang yang sekarang sangat cemas dengan masa depannya, karena berpikir dia tidak akan mampu bersaing, namun disisi lain, ada yang sangat cemas dengan kesehatannya, sangat khawatir tertular virus COVID 19.


Ada sebuah kutipan dari Sun Tzu “Jika kamu mengenal lawanmu dan juga dirimu sendiri, kamu dapat memenangkan ratusan pertarungan tanpa kalah sekalipun”. Menyadari apa yang kita persepsikan sebagai sebuah ancaman yang berujung pada bahaya adalah faktor kunci dalam menghadapi kecemasan. Siapa lawan kita? seberapa kuat lawan kita? atau pertanyaan yang lebih tepat, seberapa “nyata” lawan kita ini?


Semakin kita terkunci dalam sebuah ide bahwa ancaman tersebut adalah sebuah kepastian, maka semakin cemaslah kita dibuatnya. Juga semakin kita berpikir bahaya yang diakibatkan akan sangat destruktif, maka intensitasnya semakin tinggi. Terlebih jika kita meyakini bahwa kita tidak bisa menghindar dari situasi ini atau kita tidak mengetahui secara pasti kapan ancaman ini akan membahayakan kita, maka kecemasan semakin menguasai kita.


Latihlah dirimu untuk bisa merespons keyakinanmu tersebut. Hadapi dengan sikap terbuka dan penuh keingintahuan. Pastikan betul kemungkinan ancaman tersebut benar-benar terjadi dan benar-benar membahayakanmu. “seberapa pasti ancaman ini akan benar-benar terjadi ?”, “ada berapa faktor yang mempengaruhinya ?”, “pernahkah situasi serupa muncul, namun outputnya baik-baik saja?”, “kalaupun pernah terjadi bahaya tersebut, ada konteks yang berbeda kah dulu dan sekarang ?”.


Elemen berikutnya dari kutipan Sun Tzu adalah bagaimana kita mengenali diri sendiri. Sejalan dengan teori CBT, salah satu point yang membuat kita semakin cemas adalah adanya keyakinan bahwa kita tidak berdaya dan kita tidak mampu menghadapi potensi ancaman tersebut. Disini akan sangat berpengaruh bagaimana kita memandang diri sendiri, beberapa orang yang memiliki penilaian diri yang rendah akan membuatnya semakin merasa helpless. Namun, jika kita coba lebih kritis, apakah benar TIDAK ADA SAMA SEKALI HAL YANG MASIH BISA KITA LAKUKAN ? (sengaja saya tekankan supaya membuat pembaca lebih berpikir). Faktanya, kebanyakan masih banyak waktu dan peluang usaha kita dalam menghadapi potensi ancaman. Setidaknya, kita bisa meminta bantuan orang lain dalam menghadapinya. Coba tanyakan pada diri sendiri “apa yang masih bisa saya lakukan sekarang ?”, “berapa waktu yang tersisa?”, “bagaimana saya bisa memaksimalkan waktu yang ada?”, “apakah tantangan ini sesuatu yang berat / paling berat?”, “pernahkah saya menghadapi tantangan hidup dengan sikap yang positif ?, kapan itu? dan bagaimana saya menghadapinya ? apa yang bisa saya ambil pelajaran buat situasi sekarang ?”.


Potensi manusia untuk berpikir sangatlah luar biasa, namun disitu pula-lah tempat yang paling mungkin terdistorsi. Dan untuk mengubahnya, perlu juga kembali kepada proses berpikir kita.


Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog.





40 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua