Motivasi dan Dopamin

Semua yang psikologis pasti ada aspek biologisnya. Istilah ini populer selama beberapa tahun belakangan seiring dengan banyaknya hasil penelitian dari neuroscience yang fokus pada aspek psikologis manusia, seperti emosi, perilaku ataupun pikiran. Salah satu yang menjadi hits adalah pembahasan bagaimana bentuk biologis dari motivasi manusia. Untuk menjawabnya kita akan sedikit masuk kesistem saraf pusat, yaitu otak.


Otak memiliki puluhan bahkan ratusan miliar sel yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Sel ini disebut dengan neuron. Terdapat celah kecil antar neuron yang berfungsi menjadi tempat pertukaran zat elektrokimia yang disebut dengan neurotransmitter. Beberapa diantaranya adalah ; serotonin, dopamin, epinephrine, GABA, glutamate, dan sebagainya.


Salah satu neurotransmitter yang terkait erat dengan motivasi manusia adalah dopamin. Ketika kita merasa sangat termotivasi dan terdorong untuk melakukan suatu perubatan, disitu pulalah dopamin kita sedang “banjir” di otak. Kita jadi semangat dan bisa meluangkan waktu, energi dan fokus kita untuk mengerjakan hal tersebut. Kita akan jadi “niat banget” atau “bela-belain” hanya sekedar agar hal tersebut bisa kejadian. Yang saya maksud “hal tersebut” bisa bervariasi, mulai dari sesuatu yang negatif seperti porn, drugs, alkohol, makanan tidak sehat, sampai sesuatu yang positif seperti, belajar, bekerja dan berolahraga.


Dopamin mudah sekali terstimulasi dengan adanya keterbaruan. Ketika kita menemukan hal yang baru, semangat kita akan meningkat. Coba ingat kapan terakhir Anda punya gadget baru ? ketika pertama kali Anda unboxing, apa rasanya ? apakah Anda menghabiskan banyak waktu untuk googling atau youtubing berbagai tips and tricks atau fitur-fitur baru di gadget tersebut ? Apakah Anda merasa sangat bahagia, excited, fokus dan berenergi ? Itulah kurang lebih rasa ketika molekul dopamin muncul “menendang” Anda.


Efek dopamin tersebut juga menjelaskan mengapa kita bisa menghabiskan banyak waktu di media sosial, game, atau aktifitas online lainnya. Bagaimana pasangan yang baru menjalin hubungan bisa sangat bahagia atau ketika kita excited bekerja di kantor baru atau jabatan baru, atau ketika kita pertama kali masuk semester baru di sekolah. Semua karena ada sesuatu yang “baru”.


Media sosial, game dan aktifitas di internet memang didesain untuk memberikan sesuatu yang baru secara konstan. Dengan membuat leveling atau misi-misi yang bertingkat, membuat pemain merasakan ada tantangan baru yang harus diselesaikan. Berbeda lagi dimedia sosial, sesuatu yang baru didapat dari infinite scroll yang memberikan berbagai info terbaru dari keluarga, idola atau topik tertentu yang memang Anda minati.


Nah, untuk masalah hubungan dengan orang lain dan pekerjaan (atau belajar jika Anda masih dalam masa pendidikan), stimulus yang diberikan tidak sekonstan yang diberikan di media sosial, game maupun internet. Malahan cenderung sangat bertolak belakang. Tidak jarang banyak orang yang hanya bertahan sebentar di sebuah hubungan karena merasa tidak ada spark yang muncul dengan pasangannya. Hanya muncul diawal hubungan dan perlahan menurun seiring waktu. Terlebih ketika memang hubungannya sendiri penuh dengan konflik. Atau ketika jenuhnya seorang karyawan karena pekerjaannya itu-itu saja. Tidak ada sesuatu yang baru ditawarkan oleh tempat kerjanya. Dan ketika seorang pelajar yang merasa tidak tertarik hadir di kelas karena merasa gurunya membosankan.


Pada saat itu, seseorang perlu dengan sengaja mencari keterbaruannya sendiri. Misalnya, ia mendesain tahapan pekerjaannya sedikit demi sedikit agar prosesnya terasa lebih menarik untuk dikerjakan. Ia mengatur jadwal untuk diskusi dengan senior atau atasan yang berpengalaman dan mendengar bagaimana agar pekerjaan yang dilakukan bisa lebih efektif. Sepulang berkegiatan, ia menyempatkan diri membaca buku yang bisa menambah pengetahuannya. Dia ambil waktu untuk mengikuti online course dengan berbagai topik yang terkait tugasnya. Ia menyempatkan diri membagikannya apa yang ia pelajari dalam bentuk tulisan maupun digital, seperti podcast dan edukasi di sosmed.


Menurutmu, apakah ini bisa diterapkan di kantor atau sekolahmu ?


Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog.




32 tampilan0 komentar