Suicide Mind

Pada tahun 2022, tema yang diangkat oleh International Association for Suicide Prevention untuk memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia adalah “Creating Hope Through Action”. Makna dari tema tersebut adalah segala tindakan pencegahan bunuh diri yang kita lakukan (baik berskala kecil atau besar), dapat menjadi harapan bagi orang-orang yang sedang merasa kesulitan—atau mampu menekan angka kematian akibat bunuh diri.


Mengutip dari World Health Organization atau WHO (2021a), terdapat lebih dari 700.000 orang yang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Kasus bunuh diri lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan (Onie et al., 2022; WHO, 2019). Di Indonesia sendiri pada tahun 2019, terdapat sekitar 6.500 orang yang meninggal akibat bunuh diri (prevalensi 2,6 dari 100.000 penduduk) (WHO, 2021b). Akan tetapi, angka tersebut tidak mencerminkan kenyataan yang sebenarnya. Hal ini karena angka kematian bunuh diri di Indonesia cenderung underreported atau seharusnya lebih banyak dibandingkan data yang ada (Onie et al., 2022). Berdasarkan penelitian dari Onie dan tim (2022), angka bunuh diri di Indonesia yang sebenarnya bisa mencapai 3-4 kali lipat lebih banyak dibandingkan angka bunuh diri yang tercatat.


Fakta terkait bunuh diri di atas, khususnya terkait dengan yang terjadi di Indonesia, kembali menekankan betapa pentingnya pencegahan bunuh diri. Sayangnya, upaya pencegahan bunuh diri kerap kali terhambat dengan label negatif (contoh: pencari perhatian, orang yang tidak bermoral) yang diberikan kepada orang yang melakukan bunuh diri (Maple et al., 2020). Untuk mengurangi hambatan tersebut, kita sebaiknya perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi pada orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya. Meskipun terkesan sederhana, upaya memahami tentu akan mengantarkan kita untuk lebih mudah berempati dan peduli terhadap mereka.


Salah satu hal yang perlu kita pahami bersama adalah faktor pendorong dari pemikiran dan tindakan bunuh diri itu sendiri. Faktor tersebut sangat beragam dan kompleks, mulai dari faktor biologis, psikologis, juga sosial. Akan tetapi, artikel ini akan fokus membahas mengenai pikiran-pikiran dan kepercayaan yang muncul pada orang yang melakukan atau juga baru memiliki pemikiran bunuh diri.


Putus asa menjadi nuansa yang sangat kental pada mereka yang ingin mengakhiri hidupnya. Individu yang memiliki dorongan bunuh diri yang kuat merasa sangat menderita pada masalah yang ia hadapi sekarang. Ia juga percaya bahwa tidak akan ada perubahan di masa depan, yang artinya dia akan tetap menderita lagi dan lagi, atau bahkan lebih dan lebih. Dalam Cognitive Triad of Depression, Beck menyebutnya sebagai negative view of the future. Di mana individu juga tidak bisa memvisualisasikan adanya jalan keluar untuk bisa mengubah keadaan atau masalah yang dialaminya. Ia juga tidak percaya bahwa ia akan berubah menjadi lebih baik. Dalam skema atau pola pemikiran seperti itu, tidaklah mengherankan bunuh diri muncul sebagai salah satu pilihan bagi mereka untuk menyelesaikan permasalahan yang dialaminya. Dorongan untuk segera keluar dari penderitaan dan kekacauan ini semakin besar, terlebih ketika ia percaya bahwa orang lain akan lebih baik tanpa kehadiran dirinya. Beck menyebut dinamika tersebut dengan istilah escape from life sebagai salah satu motif dari perilaku bunuh diri (Beck et al., 1979).


Negative view of the self juga menjadi salah satu variabel yang memperkuat pilihan bunuh diri. Mereka yang menilai diri mereka tidak berharga, tidak pantas, gagal, dan merupakan beban untuk orang lain, sangat rentan dengan premis “Orang lain akan lebih baik, ketika saya tidak ada”. Tidak ada bayangan sebaliknya, bahwa keluarga, sahabat, atau orang-orang terdekatnya akan terpukul jika ia benar mengambil keputusan bunuh diri. Mereka tidak dapat membayangkan konsekuensi tersebut, karena telah menganggap dirinya sebagai beban bagi orang lain.


Ketertarikan seseorang pada pilihan bunuh diri juga semakin kuat ketika ia membandingkan kematian lebih menjanjikan dibanding hidup. Fakta ini mungkin yang membuat orang-orang sekitarnya secara otomatis akan menceramahinya dengan dalil agama, karena hanya agama yang bisa menjelaskan kehidupan setelah kematian secara jelas dan mendetail. Meskipun benar, karena tidak disampaikan dengan cara dan oleh orang yang tepat, pesan itu menjadi terdistorsi. Sebab, orang dengan tendensi bunuh diri cenderung lebih mudah memproses dan memusatkan perhatian pada informasi negatif dibandingkan yang positif (Wenzel & Beck, 2008). Nasihat yang baik, akan terdengar seperti sebuah serangan musuh yang membuat orang tersebut merasa perlu membangun tembok pertahanan yang tinggi. Walhasil, komunikasi menjadi mandek, berakhir dengan diam atau argumentasi tiada berujung, yang pada akhirnya membuat ia semakin meyakini berbagai negative view of the world, bahwa memang “Tidak ada yang peduli dengan saya”, “Tidak ada yang menginginkan saya”, dan “Tidak ada yang mencintai saya”.


Beck (1979) dalam bukunya Cognitive Therapy of Depression menyebutkan ada motif lain selain escape from life yang membuat seseorang memilih untuk mengakhiri hidupnya, yaitu manipulation of others. Beck menyebutkan individu ini berani “gambling” dengan kematian untuk memunculkan interpersonal change, seperti kembalinya orang yang penting secara emosional, membuat orang lain sadar bahwa “saya butuh pertolongan”, menyelesaikan masalah tertentu di lingkungannya, atau membantunya untuk masuk ke rumah sakit sebagai bentuk “istirahat” sementara dari lingkungannya. Ketika motif utamanya adalah manipulasi, percobaan bunuh diri menjadi tidak terlalu serius dibandingkan ketika escape from life menjadi motif utamanya. Kami akan membahas khusus mengenai motif ini di tulisan berbeda.


Memahami perilaku bunuh diri akan lebih mudah ketika kita memahami apa yang berada dalam pikiran mereka. Intensitas emosi tidak nyaman dan perilaku yang maladaptif adalah hasil dari cara berpikirnya yang terdistorsi. Mengetahui apa yang ada dipikiran tidak mungkin dilakukan tanpa melalui dialog tanya jawab. Oleh karena itu, bertanya secara langsung mengenai ide bunuh diri menjadi salah satu pintu masuk pencegahan bunuh diri. Dengan menanyakan pemikiran bunuh diri dan membuat seseorang menceritakan pemikiran bunuh dirinya dapat membantu orang ini untuk melihat pikirannya secara lebih objektif, bahkan memberikan efek lega juga (Beck et al., 1979).


Akan tetapi, paragraf di atas perlu disikapi dengan jernih. Membuat seseorang untuk bisa berpikir secara objektif tentunya tidak mudah sehingga membutuhkan keterampilan khusus. Akan lebih mudah jika orang yang memiliki tendensi bunuh diri berbicara dengan psikoterapis yang memang secara khusus mempelajari keterampilan tersebut. Psikoterapis dengan Cognitive Behavior Therapy akan secara spesifik menyasar distorsi berpikir tersebut dengan berbagai strategi, seperti cognitive restructuring atau pun behavior experiment. Oleh karena itu, kita bisa mengambil peran dengan mendorong dan mendukung mereka yang merasa kesulitan dan kehilangan harapan untuk mencari bantuan profesional. Hal ini terutama penting karena pola pikir pada orang dengan tendensi bunuh diri cenderung didominasi oleh negativitas (“Tidak ada hal lain yang dapat membantu saya”, “Saya merupakan beban bagi orang lain”) dan stigma dapat menghambat pencarian bantuan (WHO, 2021a; Wilson & Deane, 2010;). Dengan demikian, kita sebaiknya mampu membuat mereka yakin bahwa mencari bantuan profesional akan membantu dan bukan sesuatu yang memalukan atau membebani.


oleh Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog dan Raissa Fatikha, S.Psi.


Referensi







66 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua