Search

Anti gagal

Carol Dweck dalam bukunya berjudul Mindset menjelaskan perbedaan antara Fixed Mindset dan juga Growth Mindset. Disana dia juga memaparkan berbagai hasil penelitiannya dalam area tersebut. Salah satunya adalah bahwa mereka yang memiliki growth mindset sangat terbuka terhadap tantangan dan memiliki pandangan bahwa semua itu berproses, tidaklah instan. Sebaliknya, mereka yang memiliki fixed mindset, lebih anti terhadap tantangan karena takut akan kegagalan, sehingga ia akan kehilangan sebuah pengakuan dari lingkungan.


Membaca itu membuat saya mengingat bagaimana zaman sekolah dahulu. Kebanyakan dari kita (mungkin juga termasuk saya) sangat takut mendapatkan nilai jelek, sehingga sering kalah dengan dorongan untuk mencontek ketika ujian. Namun disisi lain, tidak juga memiliki kekuatan mental untuk belajar mendalami materi, sehingga bisa paham sampai ke tulang-tulangnya. Sehingga terciptalah generasi yang superficial, yang cetek, yang tidak resilien. Sekolah bagi kebanyakan kita hanya sebagai sarana untuk menghabiskan waktu dari pagi - sore. Tidak secara sungguh-sungguh kita manfaatkan untuk belajar.


Tentu jika ingin dicari akar permasalahan ini tidaklah mudah, dan juga pasti tidak akan terlepas dari peran orang tua dalam pengasuhan di rumah. Bagaimana orang tua bisa memberikan atmosfir “hey, its oke kalau kamu salah, bisa diperbaiki kok”, bukan malah “gimana sih, sudah berkali-kali dikasih tau masih saja salah”. Sebuah penekanan yang kadang diucapkan orang tua agar si anak merasa kalau dia itu salah dan dia harus kudu wajib mengakuinya. Yang terkadang justru malah membuat anak jadi merasa tidak pernah cukup dan tidak kompeten, bahkan mungkin berpikir “saya tidak bernilai”. Yang nantinya membangun karakter diri menjadi anti mencoba atau anti tantangan.