Mengajarkan Anak Kontrol Emosi

Tulis dengan huruf yang besar ditebalkan dan diberi garis bawah bahwa Mengelola emosi adalah sebuah keterampilan yang tidak muncul tiba-tiba, harus dibangun secara bertahap. Hal ini menjadi penting karena banyak orang tua yang terpancing oleh sikap anak balitanya, sehingga ia pun akhirnya ikut emosional. Misal, ketika seorang anak tantrum dan menangis tak kunjung henti. Orang tua berucap seperti ini “Kamu bisa diam tidak..!!!, berisik tau..!! mamah jadi gak bisa kerja karena kamu berisik ?” atau sebaliknya “kalau mau nangis sudah sana, jangan disini, ganggu tau nggak..!”. Respons orang tua yang ikut terpancing biasanya adalah menjadi dingin, flat, menghindar atau justru ikut tantrum, dengan ikut marah atau menangis tak terkontrol.


Banyak orang tua yang punya ekspektasi bahwa anak mereka bisa LANGSUNG dan SEGERA mengontrol gejolak emosi besar yang mereka rasakan. Padahal itu sangatlah tidak mungkin, ekspektasi sangatlah jauh dari realita yang ada. Anak didesain sebagai developing mind atau dengan pikiran yang masih berkembang. John Locke menyebutkan pikiran seorang anak ketika dia lahir seperti tabula rasa, atau kertas putih kosong yang nantinya akan diisi dari berbagai pengalaman dari kelima inderanya. Well, meskipun pernyataan tersebut kontroversial, karena pada dasarnya manusia lahir dengan potensi genetik dari orang tuanya. Tapi kita bisa mengambil esensi idenya kepada tulisan kali ini, bahwa keterampilan mengontrol emosi MEMANG PERLU DILATIH, tidak ujug-ujug muncul.


Dengan mengingat ini, orang tua akan lebih conscious atau lebih sadar terhadap langkah berikut yang akan diambil. Cukup sederhana bukan? baca tulisan kita disini https://www.mindinstitute.id/post/ingat-ini-pada-saat-ingin-berubah yang menjelaskan bahwa, mengingat suatu hal bisa mendorong kita pada perubahan perilaku. Selanjutnya orang tua bisa memunculkan runutan pikiran, “jika memang anakku belum memiliki keterampilan mengontrol emosi, lalu apa hal yang lebih efektif saya lakukan untuk sekarang dan untuk jangka panjang kedepannya nanti ?, “jika anakku belum memiliki keterampilan mengontrol emosi, lalu apa hal yang bisa saya lakukan untuk melatih keterampilan tersebut ?”.


Ambil waktu untuk merenung, tengoklah diri kita sendiri sebagai orang tua. Pernahkah kita berada pada situasi emosional dan akhirnya kita kehilangan rem, sehingga berperilaku atau berkata hal yang kita sesali ?. Jika pernah (dan pastinya pernah), coba bayangkan itu terjadi pada anak yang memang secara infrastruktur psikologis dan biologis belum matang ? Tengoklah pada pengalaman kita sendiri, ketika kita menangis tak karuan lalu ada teman atau keluarga yang berkata, “udah sih jangan nangis, gitu aja lo tangisin”, apa perasaan kita mendengar kalimat tersebut ? apakah kita secara instan langsung tenang? atau tidak memberikan efek apapun atau justru buat kita tersinggung karena merasa tidak divalidasi, sehingga di dalam hati kita berkata “lo gak ngerasain sih apa yang gw rasain”. Lalu bagaimana jika itu terjadi pada interaksi kita dengan anak kita?


Lebih lanjut, orang tua bisa menambah amunisi dengan menemukan alasan mengapa harus membantu anak mengontrol emosi mereka. Alasan ini perlu kita cari tahu untuk menjawab pertanyaan why. Friedrich Nietzsche pernah berkata “He who has a why to live for can bear almost any how”. Ketika orang tua sudah memiliki alasan yang kuat, bisa membantu dia menghadapi berbagai rintangan dalam menghadapi anak mereka. Karena pastinya, tidak ada yang mudah dalam pengasuhan anak.


Menurutmu, apa alasan yang paling kuat untuk dipegang orang tua dalam melatih anaknya untuk mengontrol emosi ?



42 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Anti gagal