top of page

Kepribadian Borderline: Dari Normal ke Abnormal

Diperbarui: 29 Mei

Informasi di artikel ini hanya sebatas edukasi. Mohon memahaminya dengan bijak dengan tidak mendiagnosis dan memberikan label negatif bagi diri sendiri maupun orang lain. Artikel ini juga mengandung pembahasan isu yang sensitif (menyakiti diri dan bunuh diri).


Seiring semakin banyaknya edukasi kesehatan mental, mungkin kita jadi pernah mendengar “Borderline Personality Disorder” (atau BPD) sebagai salah satu jenis gangguan kepribadian. Secara umum, karakteristik utama dari BPD adalah ketidakstabilan (instability) dan impulsivitas (impulsivity). Lebih lanjut, orang dengan BPD memiliki ketidakstabilan pada hubungan interpersonal, emosi (atau kesulitan meregulasi emosi), dan self-image/self-identity (bagaimana seseorang memandang dan mendefinisikan dirinya) (DSM-5, 2013). Untuk detail tentang gejala dan bagaimana BPD bisa berkembang, bisa dipelajari lebih lanjut pada artikel Mind Institute sebelumnya.


Namun, sebenarnya karakteristik dari kepribadian borderline tidak hanya dimiliki orang dengan gangguan BPD (Millon et al., 2004; Stricker et al., 2023). Terdapat beberapa jenis atau varian dari kepribadian borderline yang berada dalam kontinum/spektrum “normal-abnormal”. Dengan kata lain, ada varian kepribadian borderline yang “mild/normal”, “moderate/abnormal”, dan “severe/disorder” (Millon, 2011). Yang menjadi kesamaan dari beragam variasi kepribadian borderline adalah memiliki keinginan yang besar untuk berhubungan dekat dengan orang lain dan menjadikan orang lain sebagai pusat kehidupannya (misal: sumber keberhargaan diri) (Millon, 2004). Selain itu, orang dengan kepribadian borderline relatif memiliki pengalaman emosi yang lebih intens dan mudah berubah-ubah dibandingkan orang yang tidak memiliki kepribadian borderline.


Seperti kepribadian borderline, beberapa kepribadian lainnya juga berada dalam kontinum/spektrum. Untuk pembahasan tentang spektrum kepribadian narsisistik bisa dipelajari pada tulisan di tautan ini.


Apa yang Dimaksud dengan “Borderline”?

Istilah “borderline” mungkin masih terdengar asing bagi kita. Sebenarnya, penggunaan istilah “borderline” sebagai nama bagi sekelompok gejala dari BPD masih diperdebatkan. Dalam hal ini, penggunaan istilah “borderline” cenderung ambigu dan kurang merepresentasikan gejala yang kompleks dari BPD (New & Triebwasser, 2018; Millon, 2011).


Istilah “borderline” pertama kali digunakan oleh Adolph Stern untuk melabeli pasien yang menunjukkan gejala yang berada “di antara” neurosis dan psikosis (New & Triebwasser, 2018). Konseptualisasi yang dilakukan Stern tersebut berdasarkan cara pandang aliran psikoanalisis dalam melihat masalah psikologis. Jika disederhanakan, neurosis biasanya digunakan untuk pasien yang menunjukkan masalah kesehatan mental yang tidak begitu parah. Sebaliknya, psikosis adalah sebutan untuk masalah kesehatan yang lebih berat (dengan gejala tidak mampu membedakan realita dan imajinasi). Selain itu, istilah tersebut sebelumnya juga digunakan oleh para klinisi ketika belum yakin tentang apa diagnosis yang paling tepat untuk pasien dengan gejala tertentu (Millon, 2011).


Akan tetapi, seiring mulai berkembangnya penelitian tentang BPD (dari beberapa tokoh, seperti Roy Grinker dan John Gunderson), tidak ditemukan bukti yang mendukung konseptualisasi dari Stern (bahwa BPD adalah gangguan yang berada “di antara” neurosis dan psikosis) (New & Triebwasser, 2018). Penelitian-penelitian tersebut justru menemukan adanya sekumpulan gejala yang unik dan secara nyata membentuk suatu gangguan psikologis. Karena istilah borderlinedinilai kurang representatif atas gejala-gejala dari BPD, ada beberapa usulan penggantian nama menjadi “interpersonal emotion dysregulation disorder”, “ambivalent personality disorder”, dan lainnya (New & Triebwasser, 2018; Millon, 2011). Meskipun begitu, istilah “borderline” masih digunakan hingga saat ini. Untuk mempermudah pula, tulisan ini akan tetap menggunakan istilah “borderline”.


Kepribadian Borderline: Dari Normal ke Abnormal

Agar juga lebih terfokus, tulisan ini utamanya akan mengacu pada teori kepribadian dari Theodore Millon (Millon et al., 2004; Millon, 2011). Di bawah ini, akan dijelaskan lebih lanjut karakteristik dari spektrum kepribadian borderline. Akan tetapi, pada kenyataannya, orang dengan kepribadian borderline sangatlah beragam dan kompleks. Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa tidak semua orang dengan kepribadian borderline akan secara tepat direpresentasikan oleh satu varian/subvarian saja (Millon et al., 2004).

Spektrum kepribadian borderline, di spektrum mild/normal ada mercurial style, di spektrum moderate/abnormal ada impulsive borderline type & petulant borderline type, dan di severe/disordered ada discouraged BPD & self-destructive BPD
Spektrum Kepribadian Borderline dari teori Theodore Millon

Kepribadian Borderline Varian Mild/Normal

Millon et al. (2004), merujuk deskripsi dari Oldham dan Morris (1995), menyebutkan bahwa varian mild/normal dari kepribadian borderline disebut sebagai mercurial style. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mercurial merupakan kata sifat yang menggambarkan seseorang dengan mood/suasana hati yang sering berubah secara tiba-tiba/tidak dapat diprediksi. Orang dengan kepribadian ini bagaikan hidup di roller coaster/kereta luncur (Oldham & Morris, 1995). Intensitas emosi yang mereka rasakan lebih tinggi dan cenderung lebih mudah mengalami perubahan mood secara tiba-tiba (Millon et al., 2004). Dengan kata lain, mereka lebih sensitif dan reaktif ketika berhadapan dengan situasi yang berubah-ubah dan memicu emosi. Selain itu, perilaku mereka juga didorong oleh emosi dibandingkan logika.


Efek adaptif dari karakteristik kepribadian mercurial style yang sensitif dan emosional adalah membuat mereka menjadi seseorang yang ekspresif, spontan, dan penuh gairah/semangat (Oldham & Morris, 1995). Sebagai tambahan, orang dengan kepribadian borderline juga disebutkan relatif mampu berempati karena lebih sensitif menangkap informasi sosial dari lingkungan/situasi (Salgado et al., 2020). Terkadang, orang dengan kepribadian ini juga menunjukkan ekspresi emosi negatif yang bisa berlebihan. Namun, mereka cenderung mampu untuk bisa memerhatikan dampak ekspresi emosinya pada orang lain (Millon et al., 2004).


Orang dengan kepribadian mercurial style juga memiliki hasrat untuk selalu memiliki koneksi yang intim dan mendalam dengan orang lain (terutama secara romantis) (Millon et al., 2004). Karena hubungan yang intim adalah pusat dan prioritas dari kehidupan mereka, orang dengan kepribadian mercurial style sangat menginvestasikan diri dalam suatu hubungan (Millon et al., 2004; Oldham & Morris, 1995). Mereka akan cenderung untuk ingin terus terhubung dan mengetahui apa yang pasangan mereka lakukan, pikirkan, dan rasakan. Selain itu, mereka juga mengidealisasi pasangan mereka, seakan-akan pasangannya sebagai orang yang paling sempurna di dunia.

Sepasang laki-laki dan perempuan yang saling memandang satu sama lain
Orang dengan kepribadian borderline memiliki keinginan yang kuat untuk memiliki relasi yang lekat dan ingin selalu terhubung dengan orang terdekatnya.

Di balik keinginan mereka untuk terus terhubung dengan orang lain, sebenarnya terdapat ketakutan akan ditinggalkan dan penelantaran (abandonment) (Millon et al., 2004). Selain itu, mereka juga bisa memiliki kepercayaan bahwa mereka bukanlah orang yang berharga jika tidak memiliki hubungan yang bermakna (Millon, 2011). Kemudian, orang dengan kepribadian mercurial style juga memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap pasangannya untuk dapat terlibat dalam hubungan secara penuh dan intens (sebagaimana yang orang dengan kepribadian mercurial style lakukan). Mereka juga menginginkan hubungan yang terus penuh dengan gairah dan romantis dengan pasangannya (yang pada kenyataannya sulit untuk terpenuhi). Jika mereka mempersepsikan pasangannya tidak mampu memenuhi dan responsif terhadap ekspektasi tersebut, mereka menjadi sangat mudah untuk kecewa dan terluka (Millon et al., 2004; Oldham & Morris, 1995). Namun, orang dengan varian kepribadian borderline mild/normal masih lebih mampu untuk memiliki cara pandang yang lebih kompleks dan realistis terhadap hubungan yang dimilikinya (Millon et al., 2004).


Terkait juga dengan bagaimana orang dengan kepribadian mercurial style mudah terdorong oleh emosi, mereka cenderung menjadi orang yang impulsif (Oldham & Morris, 1995). Mereka lebih tertarik melakukan aktivitas yang memberikan sensasi dan kenikmatan. Karakteristik ini bisa membantu mereka menjadi orang yang berani untuk mencoba hal baru (misal: peran, gaya hidup), penuh rasa ingin tahu, dan kreatif (Millon et al, 2004; Oldham & Morris, 1995). Akan tetapi, terkadang mereka menjadi sulit untuk mengontrol diri dan mempertimbangkan risiko dari perilakunya. Misalnya, mereka bisa kesulitan untuk mengontrol penggunaan uang, alkohol, dan zat (Oldham & Morris, 1995). Selain itu, karena sering mencoba hal baru, orang dengan kepribadian mercurial style dapat mengalami kebingungan akan identitas dirinya. Meskipun begitu, mereka cenderung dapat mempertahankan self-image yang lebih stabil dibandingkan orang dengan kepribadian borderline moderate/abnormal dan severe/disordered (Millon et al., 2004).


Kepribadian Borderline Varian Moderate/Abnormal

Ketika pola perilaku, pikiran, dan perasaan dari orang dengan kepribadian borderline mild/normal menjadi lebih intens dan mengganggu, mereka berisiko untuk “bergeser” ke spektrum moderate/abnormal (atau bahkan severe/disordered) (Millon, 2011). Lebih lanjut, terdapat dua subvarian atau tipe dari kepribadian borderline moderate/abnormal:


(1) Tipe kepribadian borderline impulsive (Impulsive borderline personality type)

Subvarian/tipe ini merupakan kombinasi dari kepribadian borderline dengan histrionic dan antisocial (Millon et al., 2004; Millon, 2011). Karakteristik yang khas dari tipe ini adalah dimilikinya kebutuhan untuk secara konstan/terus-menerus menjadi pusat perhatian. Untuk memenuhi kebutuhannya tersebut, orang dengan kepribadian ini menjadi lebih hiperaktif, menggoda, memamerkan diri, kesulitan meregulasi ekspresi emosi positif (terlalu bersemangat atau manik), dan berkeinginan untuk bersosialisasi secara persisten. Jika juga memiliki kecenderungan antisosial, mereka bisa melakukan tindakan yang berisiko/kurang pertimbangan dan menjadi cenderung kurang bertanggung jawab atas tindakannya.


Sayangnya, strategi untuk meraup perhatian yang dilakukan relatif tidak membuahkan hasil (Millon, 2011). Sebagai dampaknya, mereka menjadi takut akan tidak lagi mendapatkan perhatian dari orang lain. Kemudian, mereka menjadi kehilangan kepercayaan diri dan meragukan keberhargaan dirinya. Ketakutan tersebut bisa semakin kuat dan akhirnya memunculkan perasaan akan ditelantarkan dan hidup yang kosong.


(2) Tipe kepribadian borderline petulant (Petulant borderline personality type)

Tipe kepribadian borderline petulant (arti petulant dalam bahasa Indonesia adalah mudah marah dan kasar) merupakan bentuk kombinasi kepribadian borderline dengan negativistic/passive-aggressive (Millon et al., 2004; Millon, 2011). Secara umum, orang dengan tipe kepribadian ini cenderung tidak dapat diprediksi, mudah marah/tersinggung, keras kepala, pesimis, kurang sabar, sering mengeluh, dan mudah iri dengan kebahagiaan orang lain. Mereka merasakan kejengkelan, kekecewaan, dan dendam terhadap orang lain yang menjadi tempatnya bergantung dan dahulunya mereka kagumi. Perasaan tersebut dialami karena kebutuhan mereka dalam hubungan jarang terpenuhi dan merasa tidak aman dalam hubungannya dengan orang lain.


Karena tidak mampu menemukan kenyamanan dari orang lain, orang dengan kepribadian ini semakin mengekspresikan ketidakpuasan (Millon et al., 2004). Meskipun begitu, sebenarnya mereka tetap menginginkan kasih sayang dan persetujuan dari orang lain yang signifikan baginya. Negativisme yang dimiliki semakin tidak rasional dan membuat mereka memberikan tuntutan yang berlebihan ke orang lain. Mereka juga menunjukkan kemarahan secara meledak-ledak (dan bisa sampai menyerang). Akan tetapi, setelahnya, mereka mengarahkan kemarahan dan perasaan negatif tersebut ke diri sendiri. Mereka menjadi sangat menyesal (bahkan bisa terlalu menyalahkan diri sendiri), merasa tidak berharga, juga sangat gelisah dan sedih (Millon, 2011).

Perempuan yang terlihat murung, menundukkan kepala dan memegang erat kepalanya
Ketakutan akan ditinggalkan/ditelantarkan terasa sangat intens dan sulit diregulasi oleh orang dengan kepribadian borderline variasi abnormal & disordered

Kepribadian Borderline Varian Severe/Disordered

(1) Gangguan kepribadian borderline discouraged (Discouraged BPD)

Orang dengan gangguan kepribadian borderline discouraged disebutkan memiliki kombinasi kepribadian borderline dengan dependent, avoidant, compulsive, dan depressive (Millon et al., 2004; Millon, 2011). Bagi yang memiliki kombinasi borderline-dependent/avoidant, mereka dicirikan sebagai individu yang submisif, penurut, tidak memiliki inisiatif, dan sering kali merasakan kesedihan yang mendalam dan kronis. Lebih lanjut, mereka menggantungkan diri hanya kepada satu atau dua orang saja yang mampu memberikan kasih sayang.


Namun, mereka memiliki ketakutan bahwa hidupnya terancam dan tidak merasa sepenuhnya aman (Millon et al., 2004). Mereka juga meragukan diri, merasa tidak berdaya/mampu untuk melakukan sesuatu/tanggung jawabnya, juga tidak berharga/berguna. Oleh karenanya, mereka mudah panik jika merasa sendirian dan rentan merasakan kesedihan yang intens. Kemudian, mereka juga menjadi selalu ingin dekat dengan orang yang dianggapnya signifikan, serta menginginkan orang lain mengasihinya seakan-akan ia adalah anak bayi yang tidak berdaya.


Selanjutnya, orang dengan kepribadian borderline yang juga berkombinasi dengan compulsive-depressive adalah sosok yang sangat menghormati dan tunduk kepada sosok otoritas (Millon et al., 2004; Millon, 2011). Mereka juga memiliki ekspektasi untuk mendapatkan balasan yang positif dari kepatuhannya. Akan tetapi, karakteristik borderline berkembang ketika individu menyadari bahwa kepatuhannya tidak dibalas dengan kasih sayang dan dukungan dari orang lain. Mereka juga tidak yakin bahwa kepatuhannya akan melindunginya dari ditinggalkan orang lain.


Oleh karena itu, mereka mulai merasakan kemarahan dan merasa terkhianati. Namun, mereka justru mengarahkan kekecewaannya tersebut ke dirinya sendiri. Hal ini karena mengekspresikan marah tidak sesuai dengan self-image sebagai sosok yang “tunduk” dan akan menjauhkan diri dari orang yang signifikan baginya. Mereka menjadi berperilaku menyakiti diri dan mencoba untuk mengakhiri hidup. Perilaku tersebut dilakukan untuk mengontrol emosinya dan menghukum dirinya sendiri karena merasakan amarah (Millon et al., 2004; Millon, 2011).


(2) Gangguan kepribadian borderline self-destructive (Self-destructive BPD)

Seperti orang dengan kepribadian borderline petulant, individu dengan gangguan kepribadian borderline self-destructive juga kesulitan untuk merasa aman dalam suatu hubungan (Millon et al., 2004). Akan tetapi, orang dengan gangguan kepribadian ini memiliki sifat masochistic yang membuatnya mengarahkan perasaan yang destruktif (misal: marah) ke dirinya sendiri. Mirip juga dengan tipe gangguan kepribadian borderline discouraged, orang dengan gangguan kepribadian ini juga cenderung patuh dan tunduk kepada orang lain. Akan tetapi, di dalam dirinya, ada keinginan untuk menjadi independen yang bersama muncul dengan ketakutan akan otonomi (yang berkebalikan dengan keinginannya sendiri). Untuk mengontrol dorongan yang berlawanan tersebut, orang dengan kepribadian ini memilih “mengalah”, “mengorbankan diri”, dan tetap berusaha untuk membuat orang lain terpukau dengan kepatuhannya.


Tendensi untuk mengabaikan keinginan (untuk bisa independen) yang ada dalam diri membuat orang dengan gangguan kepribadian ini semakin bergantung pada orang lain (Millon, 2011). Meskipun begitu, hubungannya dengan orang lain tidak terasa aman, karena di dalam dirinya masih ada kebencian terhadap orang lain. Sesekali, ia mengekspresikan kemarahannya, namun ekspresi rasa bersalah kembali mengikuti kemudian. Perilaku dan ekspresi emosi yang berlawanan tersebut berulang dan menjadi pola yang membuat orang dengan gangguan kepribadian ini semakin tidak nyaman. Mereka juga menjadi mengalami gejala fisik yang mengganggu dan semakin labil secara emosi. Selain itu, perilaku menghancurkan diri (seperti mengancam dan/atau melakukan percobaan bunuh diri) juga bisa ditunjukkan oleh orang dengan gangguan kepribadian borderline self-destructive.


Apa yang Bisa Dilakukan Jika Seseorang Memiliki Kepribadian Borderline?

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, karakteristik dari kepribadian borderline (terutama yang masih berada pada spektrum bagian mild/normal) ada yang bersifat membantu/adaptif. Karakteristik tersebut dapat dimanfaatkan dan diregulasi agar membuat hidup menjadi lebih kaya dan utuh. Akan tetapi, seperti semua orang, orang dengan kepribadian borderline juga perlu mengasah beberapa keterampilan yang mungkin masih kurang memadai (misal: regulasi emosi, komunikasi asertif). Hal tersebut dibutuhkan agar mereka lebih mampu membangun hubungan yang sehat dan bermakna. Penting juga bagi orang-orang di sekitarnya untuk menunjukkan pemahaman, penerimaan, dan dukungan yang dibutuhkan untuk pengembangan dirinya (Oldham & Morris, 1995).


Upaya untuk mengasah keterampilan relatif akan lebih menantang bagi orang yang memiliki kepribadian borderline di spektrum moderate/abnormal dan severe/disordered/BPD. Jika Anda atau orang terdekat Anda sudah merasa terganggu dengan pola dalam berperilaku, berpikir, merasakan emosi, dan menjalin hubungan, ada baiknya untuk segera mencari bantuan profesional kesehatan mental. Kemudian, jika kita adalah orang yang tidak memiliki kondisi BPD, kita mungkin bisa kesulitan untuk memahami orang dengan BPD dan kompleksitas gejalanya. Hal yang minimal kita bisa lakukan adalah dengan mengkritisi stigma tentang BPD dan mencari tahu bagaimana seseorang bisa memiliki BPD agar mempermudah kita untuk berempati.


Selamat bulan kesadaran BPD (Borderline Personality Disorder) :)


Oleh: Raissa Fatikha, S.Psi.


Referensi

  • American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). https://doi.org/https://doi.org/10.1176/appi.books.9780890425596

  • Millon, T. (2011). Disorders of personality: Introducing a DSM/ICD spectrum from normal to abnormal (3rd ed.). John Wiley & Sons.

  • Millon, T., Grossman, S., Millon, C., Meagher, S., & Ramnath, R. (2004). Personality disroders in modern life. John Wiley & Sons.

  • New, A. S., & Triebwasser, J. (2018). A history of borderline personality disorder. In B. Stanley & A. S. New (Eds.), Borderline personality disorder (pp. 1–16). Oxford University Press.

  • Oldham, J. M., & Morris, L. B. (1995). The new personality self-potrait: Why you think, work, love, and act the way you do. Bantam Books.

  • Salgado, R. M., Pedrosa, R., & Bastos-leite, A. J. (2020). Dysfunction of empathy and related processes in Borderline Personality Disorder: A Systematic Review. 28(4). https://doi.org/10.1097/HRP.0000000000000260

  • Stricker, J., Jakob, L., & Pietrowsky, R. (2023). Associations of continuum beliefs with personality disorder stigma: Correlational and experimental evidence. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, 0123456789. https://doi.org/10.1007/s00127-023-02543-8


32 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Bình luận


bottom of page