top of page

Mengenal Borderline Personality Disorder (BPD)


Bulan Mei adalah Bulan Kesadaran Borderline Personality Disorder (BPD atau Gangguan Kepribadian Ambang). BPD merupakan salah satu jenis gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola yang tidak stabil pada hubungan interpersonal, self-image (citra diri), dan perasaan, serta adanya impulsivitas (DSM-5, 2013). Gangguan ini biasanya mulai ditemukan pada individu berusia dewasa awal (18 hingga 20-an tahun), meskipun gejalanya juga bisa mulai tampak sejak seseorang berusia remaja (Videler et al., 2019). BPD lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki (DSM-5, 2013). Sebagai dampak dari gejalanya, seseorang dengan BPD mengalami hambatan yang signifikan dalam menjalankan perannya (misalnya dalam konteks pendidikan atau pekerjaan) maupun berhubungan dengan orang lain.


Gejala Borderline Personality Disorder (BPD)

Di bawah ini adalah beberapa gejala dari BPD. Mohon memahaminya secara bijak dengan tidak mendiagnosis diri sendiri. Jika Anda merasa memiliki gejala yang disebutkan, silakan konsultasikan dengan psikolog atau psikiater sebagai ahli/profesional yang berkapasitas untuk menetapkan diagnosis psikologis.


Gejala dari BPD:

  1. Memiliki ketakutan yang intens akan pengabaian dari orang lain, dan bisa melakukan upaya yang ekstrem untuk menghindari perpisahan yang nyata atau dibayangkan.

  2. Pola hubungan interpersonal yang intens dan tidak stabil. Memiliki perubahan pandangan terhadap orang lain, dari mengidealisasi kemudian menganggap orang lain tidak cukup peduli.

  3. Ketidakstabilan atau perubahan yang drastis secara tiba-tiba pada self-image (bagaimana seseorang memandang dirinya, seperti: siapa diri saya, apa keinginan saya dalam hidup, dan lainnya).

  4. Melakukan perilaku impulsif yang berisiko membahayakan/merugikan diri (seperti: makan dalam jumlah banyak (binge eating), menghamburkan uang dengan membeli barang yang bukan kebutuhan utama, berjudi, berhubungan seksual yang berisiko, dan lainnya)

  5. Melakukan percobaan bunuh diri atau menyakiti diri secara berulang.

  6. Suasana hati (mood) yang tidak stabil dan perubahan suasana hati dapat berlangsung selama beberapa jam atau hari (meskipun lebih jarang).

  7. Merasa kosong/hampa yang berjangka panjang.

  8. Menunjukan emosi marah yang intens dan berlebihan atau kesulitan dalam mengontrol emosi marah.

  9. Ketika stres, secara sementara mengalami gejala paranoia (seperti: merasa terancam atau diserang oleh orang lain) atau disasosiasi (kehilangan kontak dengan realita).


Fitur Pikiran/Kepercayaan dan Cara Berpikir yang Khas

Pada orang dengan BPD, ada beberapa pikiran/kepercayaan (mengenai diri, orang lain, dan dunia) dan cara berpikir yang kaku dan khas. Contohnya, mereka menganggap dunia sebagai tempat yang berbahaya atau mengancam. Terkait dengan pikiran/kepercayaan tersebut, mereka memandang diri sendiri sebagai seseorang yang tidak berdaya, rentan, dan membutuhkan orang lain, bersamaan dengan melihat orang lain sebagai sosok yang tidak dapat dipercaya atau akan menyakiti mereka. Kepercayaan ini dapat berkembang akibat beberapa faktor, salah satunya adalah pengalaman traumatis mengalami kekerasan (fisik, psikologis, dan seksual) dan penelantaran (DSM-5, 2013; Kring & Johnson, 2019). Sebagai dampaknya, orang dengan BPD memiliki ketakutan yang besar akan ditinggalkan/ditolak dan menjadi sangat bergantung pada orang lain. Akan tetapi, mereka juga sangat waspada dan sulit mempercayai orang lain sebagai usaha untuk melindungi diri. Oleh karenanya, mempertahankan hubungan dengan stabil bisa sangat menantang bagi orang dengan BPD (Arntz, 2015).


Lebih lanjut, mereka juga kesulitan melihat area abu-abu, atau cenderung melihat sesuatu secara hitam-putih, 0%-100%, atau hanya ada baik-buruk. Cara berpikir yang terdistorsi itu disebut dengan dichotomous thinking (black-or-white thinking, all-or-none thinking). Maka dari itu, pandangan mereka terhadap orang lain bisa berubah secara drastis (terutama ketika orang lain dianggap melakukan sesuatu yang tidak diharapkan), dari yang sangat menyukai menjadi sangat membenci. Selain itu, dichotomous thinking juga dapat dipahami sebagai alasan mengapa orang dengan BPD mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem (Arntz, 2015).


Selain itu, kesulitan orang dengan BPD dalam mengelola emosinya juga disebabkan oleh kepercayaannya bahwa merasakan emosi adalah hal yang tidak masuk akal. Dengan kata lain, mereka menolak atau menginvalidasi emosi yang dirasakan (Arntz, 2015). Menurut Marsha Linehan (1993), pendiri pendekatan Dialectical Behavior Therapy (DBT), faktor penyebabnya adalah interaksi antara kecenderungan genetik anak yang membuatnya rentan secara emosional dan lingkungan atau pengasuhan orang tua yang justru menginvalidasi atau menghukum anak apabila mereka merasakan dan mengekspresikan emosinya (terutama emosi negatif seperti sedih, takut, atau marah).


Konsekuensinya, anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar mengenali dan memahami emosinya, membuat emosi akhirnya diekspresikan secara meledak-ledak, dan kurang mampu mengelola emosinya dengan efektif (seperti menarik diri, menyakiti diri, dan/atau berperilaku impulsif). Tendensi untuk menginvalidasi emosi juga membuat mereka meragukan kemampuan diri untuk menilai realita—sehingga kesulitan membangun citra diri yang stabil dan berpikir bahwa mereka tidak mengenal diri mereka sendiri.


Komorbiditas

Individu dengan BPD juga dapat memiliki diagnosis gangguan psikologis lainnya (DSM-5, 2013), seperti:

  1. Gangguan depresi.

  2. Gangguan bipolar.

  3. Gangguan penggunaan zat (substance use disorder).

  4. Gangguan makan (terutama Bulimia nervosa).

  5. Gangguan stres pascatrauma (Posttraumatic stress disorder/PTSD).

  6. Gangguan kepribadian lainnya.


Penanganan (Treatment)

Meskipun BPD merupakan gangguan yang kompleks, psikoterapi terbukti secara ilmiah membantu dalam penanganan BPD. Beberapa contoh psikoterapi tersebut antara lain:

  1. Cognitive Behavioral Therapy (CBT), berfokus dalam mengenali dan memodifikasi pikiran/kepercayaan dan cara berpikir yang kaku, juga psikoedukasi dan melatih keterampilan lainnya (contoh: regulasi emosi, komunikasi asertif) yang dibutuhkan pasien/klien untuk mencapai tujuan/harapan dari sesi terapi.

  2. Dialectical Behavior Therapy (DBT), yang fokusnya lebih kepada mengedukasi dan membangun kemampuan meregulasi emosi yang efektif, menoleransi distress, mindfulness, dan membina hubungan secara positif.

Terapi dengan obat dapat membantu untuk meredakan gejala BPD, namun perlu diimbangi juga bersama psikoterapi yang melatih klien pasien/klien dengan BPD berbagai keterampilan untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilakunya (Arntz, 2015). Jika pasien/klien dengan BPD memiliki gangguan lainnya sebagai komorbid, bisa diekspektasikan bahwa terapi akan berlangsung lebih panjang dan intensif.


Bagaimana Jika Orang Terdekat Saya Memiliki Borderline Personality Disorder (BPD)?

Bisa menjadi hal yang tidak mudah jika orang terdekat Anda memiliki BPD, karena gejalanya dapat berdampak pada hubungan yang terjalin antara Anda dan dirinya (Friedel, 2018). Ia juga rentan merasa terisolasi dari lingkungannya dan menganggap tidak ada orang lain yang memahami dirinya. Oleh karenanya, Anda bisa berusaha untuk membantu mereka dengan melakukan beberapa hal berikut:

  1. Luangkan waktu untuk mempelajari dan memahami BPD (dari sumber terpercaya).

  2. Berempati, tidak menghakimi, dan memvalidasi. Pahami tindakannya sebagai akibat kurangnya kemampuan dan ketidaktahuan dirinya untuk mengelola dirinya sendiri. Usahakan untuk tenang (tidak bereaksi secara negatif atau terpancing emosi) saat episode atau gejala BPD muncul dan tunjukkan bahwa Anda ingin memahami, menerima, dan mendengarnya.

  3. Dukung dirinya untuk mencari bantuan profesional dan menjalani terapi secara konsisten. Yakinkan diri dan orang terdekat Anda bahwa terapi dapat membantu dirinya.

  4. Susun rencana mengenai apa yang harus dilakukan jika orang terdekat kita dengan BPD mengalami krisis dan melakukan perilaku yang membahayakan dirinya. Bantu ia memahami konsekuensi dari perilaku yang membahayakan diri. Akan lebih baik jika didiskusikan bersama dengan profesional yang menangani orang terdekat Anda.

  5. Tidak lupa menjaga diri sendiri. Penuhi kebutuhan psikologis Anda agar Anda dapat membantu orang terdekat Anda yang memiliki BPD dengan lebih baik.


Jika kamu ingin mempelajari BPD lebih lanjut, ikuti webinar kami minggu ini (13 Mei 2023). Klik link dibawah untuk mendaftar..!!

Oleh Raissa Fatikha, S.Psi.


Referensi

  • American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). https://doi.org/doi.org/10.1176/appi.books.9780890425596

  • Arntz, A. (2015). Borderline personality disorder. In A. T. Beck, D. D. Davis, & A. Freeman (Eds.), Cognitive therapy of personality disorders. The Guilford Press.

  • Friedel, R. O. (2018). Borderline Personality Disorder demystified: An essential guide for understanding and living with BPD. De Capo Lifelong.

  • Kring, A. M., & Johnson, S. L. (2019). Abnormal psychology: The science and treatment of psychological disorders (14th ed.). Wiley.

  • Linehan, M. M. (1993). Cognitive-behavioral treatment of Borderline Personality Disorder. The Guilford Press.

  • Videler, A. C., Hutsebaut, J., Schulkens, J. E. M., Sobczak, S., & van Alphen, S. P. J. (2019). A life span perspective on Borderline Personality Disorder. Current Psychiatry Reports, 21(7). https://doi.org/10.1007/s11920-019-1040-1



259 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page