Memahami Masalah Kita

Dalam mencari jodoh disebut “tak kenal maka tak sayang”, begitu pula seharusnya sikap kita dalam menghadapi sebuah masalah. Kita perlu mengenalnya, memahaminya, mendalaminya, sebelum melangkah untuk meresponsnya. Selama ini kita tidak pernah secara khusus melakukannya. Masalah kita hadapi apa adanya saja, sehingga tanpa sadar tiba-tiba masalah sudah berlalu. Ada yang benar-benar selesai, ada juga yang bergantung tak kunjung terselesaikan sampai sekarang. Memahami masalah bisa dari berbagai sudut pandang, tentunya di Mind Institute kita akan menyajikannya dari sudut pandang Cognitive Behavior Therapy.





Ada lima elemen dari pola ini yang saling terkait satu dengan lainnya, yaitu pikiran, emosi, perilaku, reaksi fisik dan lingkungan / peristiwa dalam kehidupan kita. Bisa dilihat bahwa pikiran akan mempengaruhi perilaku, emosi maupun reaksi fisik, begitu pula sebaliknya. Dan keempat hal tersebut bisa mempengaruhi sikap lingkungan terhadap kita. Untuk lebih mudahnya kita akan menggunakan contoh :


Seorang remaja sebut saja inisialnya AB, berpikir bahwa ia tidak diterima, tidak dianggap oleh teman - temannya dan tidak ada satupun yang peduli dengannya. Pikiran tersebut membuatnya merasakan emosi tidak nyaman setiap berangkat ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya. Ia sering merasa sedih dan hampa. AB melaporkan bahwa sering sekali merasa lelah dan sulit untuk bangun tidur ketika hari sekolah. Di malam hari, ia mengalami kesulitan untuk tidur. Hal tersebut sebenarnya membuat pikiran dan emosi negatif yang muncul menjadi lebih kuat. Berbagai perasaan tersebut membuat AB memilih untuk menghindari teman-temannya. Ia lebih sering terlihat sendiri di kelas ketika jam istirahat dan absen dari berbagai kegiatan yang membutuhkan banyak interaksi sosial.


Pilihan sikap AB tersebut tentunya mendapatkan respons dari lingkungannya. Teman-teman di sekolah yang awalnya mengajaknya juga mulai membatasi interaksi. Hal ini disebabkan setiap ajakan sering direspon AB dengan penolakan “maaf gak bisa ikut join, kebetulan sedang ada acara keluarga”, “izin gak ikut ya, kebetulan lagi gak enak badan” dan berbagai alasan lainnya. Sekali duakali kejadian tersebut perlahan membuat temannya percaya bahwa percuma mengajak AB, pasti dia tidak akan mau ikut.


Ketika intensitas ajakan dari temannya berkurang membuat AB semakin berpikir bahwa “saya tidak dianggap”,”saya tidak diterima disini”,”saya tidak diperdulikan disini”, “saya tidak pantas dapat perhatian”. Yang akhirnya membuatnya semakin tenggelam dalam emosi negatif dan pola periaku yang maladaptif.


Apakah kamu menyadari pola yang terjadi ?, kurang lebih seperti ini :

  • Pikiran : “saya tidak dianggap”,”saya tidak diterima disini”,”saya tidak diperdulikan disini”, “saya tidak pantas dapat perhatian”

  • Emosi : Sedih dan hampa

  • Fisik : Lelah, sulit tidur

  • Perilaku : Menghindar dari interaksi sosial, menyendiri

  • Lingkungan : Tidak mengajaknya / tidak melibatkannya


Ketika masalah kita pilah seperti ini, apakah semakin terlihat sebuah pola yang destruktif ? Menurutmu apa yang sebaiknya disasar terlebih dahulu ?


Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog.

28 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua