Mengenal Obsessive Compulsive Disorder

Dari waktu ke waktu mungkin kita memiliki pikiran mengganggu yang dapat tiba-tiba muncul dan menetap untuk beberapa waktu. Beberapa dari kita juga mungkin pernah memiliki dorongan untuk melakukan suatu hal dengan tepat, teratur dan terkadang berulang-ulang. Pada beberapa orang, pikiran mengganggu maupun dorongan untuk melakukan suatu hal muncul secara persisten yang kemudian mengakibatkan adanya distress psikologis ( stres yang bersifat negatif, seseorang akan merasa kesulitan terhadap suatu hal, yang akhirnya berdampak pada kesehatan mentalnya ) dan terganggunya keberfungsian mereka. Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya gangguan obsesif-kompulsif atau Obsessive Compulsive Disorder (OCD).


OCD merupakan gangguan psikologis yang ditandai dengan adanya pola obsesi dan kompulsi yang berulang. OCD dapat ditemukan pada berbagai budaya dan memiliki tingkat yang seimbang pada perempuan dan laki-laki. OCD dapat muncul pertama kali di berbagai usia, namun umumnya OCD pertama kali muncul pada masa remaja dan dewasa awal. Asesmen yang tepat dari profesional di bidang kesehatan mental, seperti psikologis dan psikiater dibutuhkan untuk menentukan apakah seseorang mengalami ocd atau tidak.




Gejala OCD

Obsesi merupakan pikiran, dorongan, ataupun bayangan kejadian yang bersifat intrusif, berulang dan memberikan distress. Saat menjalani keseharian kita terkadang kita memiliki pikiran yang tidak kita inginkan di benak kita, misalnya seperti apakah kita sudah mengunci pintu, kekhawatiran mengenai kebersihan, maupun kekhawatiran terjadi peristiwa buruk pada kita. Akan tetapi saat seseorang terokupasi pada pikiran tersebut, merasa tidak mampu mengendalikan, mengabaikan maupun menghadapi pikiran tersebut maka kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai gejala obsesi pada OCD.


Sementara itu, kompulsi merupakan perilaku maupun aktivitas mental berulang yang diyakini oleh seseorang perlu dilakukan sebagai respon pikiran maupun dorongan mengganggunya. Perilaku maupun aktivitas mental memiliki aturan kaku dan dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi perasaan cemas maupun distres yang timbul dari pikiran maupun dorongan obsesifnya. Individu dengan OCD umumnya meyakini bahwa perilaku maupun aktivitas mental perlu dilakukan agar tidak terjadi peristiwa yang membuat mereka cemas. Orang dengan OCD meyakini mereka “harus” melakukan perilaku kompulsinya dan mereka merasa tidak berdaya untuk mengendalikan perilaku tersebut. Perilaku kompulsi yang umumnya ditemukan pada orang dengan OCD adalah membersihkan secara berlebihan, mengecek sesuatu berulang kali, atau ritual mental seperti berhitung maupun mengulangi kata tertentu berulang kali.


Perasaan cemas dan perilaku berulang

Meskipun perilaku kompulsi dapat menurunkan rasa cemas untuk sementara waktu, pada jangka panjang perilaku kompulsi akan menjadi tidak efektif. Seiring dengan terbiasanya seseorang melakukan perilaku kompulsif untuk menurukan kecemasannya, efektifitas kompulsi atau ritual mereka akan menurun. Supaya menjadi efektif, orang dengan OCD akan meningkatkan frekuensi maupun durasi melakukan ritual tersebut. Kondisi ini yang membuat orang dengan OCD menjadi terjebak melakukan perilaku yang sama berulang-ulang.


Pada kasus OCD, perilaku kompulsif dapat sangat memakan waktu dan energi. Aktivitas sederhana yang biasanya dapat diselesaikan dalam waktu singkat menjadi memakan waktu yang panjang untuk diselesaikan sehingga berdampak pada keberfungsian sehari-hari individu. Selain itu, kondisi ini juga dapat menimbulkan adanya perasaan frustasi dan malu pada individu.


Penanganan Psikologis untuk Kasus OCD

Umumnya penangan OCD dapat dilakukan melalui pemberian psikoterapi, medikasi, ataupun keduanya dilakukan secara bersamaan. Salah satu jenis psikoterapi yang banyak digunakan untuk membantu mengatasi OCD adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT). CBT merupakan terapi kognitif perilaku yang dapat membantu orang dengan OCD mengatasi pikiran mengganggunya. Jenis CBT yang banyak diberikan pada kasus OCD adalah Exposure and Response Prevention (ERP). Pada proses ERP, terapis akan memandu orang dengan OCD menghadapi pikiran obsesi yang membuatnya cemas sembari berlatih tidak melakukan perilaku kompulsi maupun ritual yang biasa dilakukan. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi kecemasan yang timbul saat menghadapi pikiran pemicu secara bertahap sehingga individu dapat mengelola kecemasannya dengan lebih baik.


Oleh Qaishum Masturoh, M.Psi., Psikolog


Referensi:

  • Burroughs, E., Kitchen, K., Sandhu, V., & Richter, P. M. (t.thn.). Obsessive Compulsive Disorders: A Handbook for Patients and Families. Dipetik May 2021, dari Sunnybrook Health Sciences Center: https://sunnybrook.ca/uploads/1/departments/psychiatry/ocd-information-guide-2015.pdf

  • Kring, M. K., & Johnson, L. S. (2013). Abnormal Psychology: Twelfth Edition. Singapore: John Wiley & Sons, Inc.

  • Obsessive-Compulsive Disorder. (t.thn.). Dipetik June 1, 2021, dari Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/conditions/obsessive-compulsive-disorder

  • Suryaningrum, C. (2013). Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk mengatasi gangguan obsesif kompulsif. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 1(1), 1-11.


6 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua