Narkoba di Otak

Manusia berkomunikasi dengan cara berbicara dan mendengar. Mereka yang berbicara akan memproduksi kata-kata, kalimat, intonasi yang akan diterima oleh kuping pendengar. Neuron juga punya kemampuan berkomunikasi satu sama lain. mereka berkomunikasi dengan neurotransmitter. Jika di zoom berkali-kali, neuron ternyata tidak menempel satu sama lain, melainkan terdapat celah dimana menjadi tempat untuk berkomunikasi.


Neuron memiliki sirkuit atau bisa kita sebut jalur yang terkoneksi satu sama lain. banyak terdapat sirkuit di otak yang memiliki bertanggung jawab terhadap fungsi masing-masing. Neuron akan mengirimkan neurotransmitter untuk dapat menstimulasi neuron berikutnya. Setelah itu, neurotransmitter akan ditarik kembali ke neuron pengirim oleh molekul yang disebut transporter, untuk stand by.



Narkoba dapat mengganggu proses tersebut, mulai dari bagaimana neuron mengirim, menerima dan memproses sinyal dari neurotransmitter. Beberapa narkoba seperti ganja dan heroin, dapa mengaktivasi neuron karena mereka memiliki zat kimia yang mirip dengan neurotransmitter natural dari tubuh kita. Yang membuat mereka dapat menempel dan mengaktivasi neuron. Akan tetapi, meskipun mirip, mereka tidak mengaktivasi neuron dengan cara yang sama, mereka membuat proses komunikasi menjadi ABNORMAL.


Narkoba jenis lain, misalnya sabu atau cocain, dapat membuat neuron melepaskan neurotransmitter alami dalam jumlah besar yang sangat abnormal..!!!! atau bisa juga mencegah proses recycling yang normal dengan mengganggu kerja si transporter (lihat paragraph ke dua mengenai apa itu transporter). Walhasil kacau tuh komunikasinya. Kita bisa bayangkan ketika kita kacau dalam berkomunikasi, dengan pasangan misalnya. Kita akan banyak berasumsi, lebih emosional dan tidak menyelesaikan masalah sama sekali, malah makin runyam.


Dari sekian banyak neurotransmitter yang terlibat, DOPAMIN lah yang paling berpengaruh. Perasaan bahagia, senang dan gembira yang dirasakan ketika konsumsi narkoba sebenarnya melibatkan banyak neurotransmitter. Akan tetapi, dopamine lah yang membuat kita mengulangi semua aktivitas yang kita anggap menyenangkan atau buat kita bahagia.. Ketika kita mengkonsumsi narkoba, dopamine mengalir deras dengan jumlah yang berkali lipat lebih banyak dari stimulus alami yang menyenangkan atau membahagiakan, seperti makan, minum, interaksi sosial, ataupun berhubungan seks.


Ulang dan Ulangi lagi apapun yang menyenangkan dan membahagiakan.


Otak kita itu cerdas, apapun yang dianggap menyenangkan, membahagiakan atau menggembirakan akan diulangi. Sirkuit neuron yang banyak melepaskan dopamine disebut RIWARD CIRCUIT. Ketika dopamine keluar, otak akan mengganggap ada hal penting terjadi dan sangat amat perlu diingat, sehingga mudah untuk bisa diulangi lagi perilaku tersebut, lagi dan lagi, tanpa kita perlu sengaja berpikir mengenai hal tersebut, ini sangat terkait dengan pembentukan kebiasaan.


Dari bukunya NIDA memberikan analogi perbedaan normal activation di reward circuit dengan yang disebabkan oleh narkoba seperti perbedaan ketika ada seseorang berbisik di telinga kita dan orang yang teriak menyanyikan lagu metal menggunakan mikrofon..!!! BUDEG..!!!. Long story short (dipersingkat) si otak yang cerdas ini berusaha beradaptasi dengan memproduksi neurotransmitter lebih sedikit di reward circuit, sebagai cara untuk mengkompensasi banjirnya neurotransmitter akibat narkoba. Atau dengan mengurangi jumlah receptor (dalam anlogi komunikasi, reseptor di neuron adalah telinga pendengar) yang dapat menerima sinyal dari neurotransmitter. PINTER SEKALI SI OTAK KITA..!!!. Tapi hasilnya, kita akan kehilangan kemampuan untuk merasakan perasan gembira dan bahagia dari stimulus yang secara alami memberikan reward. Yang tadinya suka bermain bola akan merasa main bola sangat amat membosankan, yang tadinya suka bermain game atau yang tadinya suka ngobrol dan nongkrong akan merasa tidak lagi bergairah. Lalu apa yang membuat mereka bergairah?? Tidak lain dan tidak bukan, narkoba itu sendiri. Karena yang bisa memberikan jumlah dopamine sebanyak itu (abnormal) hanya narkoba. Otak jadi punya standar baru, cowok Indonesia sudah tidak lagi menarik, lebih menarik cowok-cowok korea, OPPAA..!!! . Ini seperti siklus yang berputas saja, yang pastinya akan berputar ke arah yang semakin buruk..!!! Bahkan dapat meningkatkan toleransi kita pada jumlah narkoba yang kita konsumsi. Makin lama akan bertambah jumlah dan intensitasnya.





Kata NIDA begini : This is why a person who misuses drugs eventually feels flat, without motivation, lifeless, and/or depressed, and is unable to enjoy things that were previously pleasurable


Bagian otak yang terimbas

Ingat, di otak berbagai sirkuit itu menjalar dan mempengaruhi berbagai area di otak. Berikut beberapa area yang terimbas :

  • Basal ganglia, disini bermula reward circuit yang kita bahas di atas. Artinya sangat berpengaruh pada pembentukan kebiasaan dan rutin. Termasuk juga berperan penting pada pembentukan motivasi pada sebuah perilaku. Narkoba membuat reward circuit menjadi overaktif, sehingga menimbulkan sensasi bahagia, senang, dan gembira yang berlebihan. Dan dengan penggunaan berulang, sirkuit ini beradaptasi sehingga membuatnya jadi tidak sensitive dan menjadikan kita sulit untuk merasakan perasaan bahagia dan gembira dari stimulus natural, kecuali hanya dari narkoba.

  • Amygdala, memiliki peran pada munculnya perasaan cemas, takut, gelisah, sensitive yang muncul ketika tidak mengkonsumsi narkoba, sehingga kembali memotivasi individu untuk mencari narkoba. Sirkuit ini makin sensitive seiring bertambahnya jumlah narkoba yang dikonsumsi. Mereka yang sudah mengalami ketergantungan narkoba, justru menggunakan narkoba untuk merasakan temporary relief from discomfort dibandingkan untuk high.

  • Prefrontal cortex, memiliki fungsi untuk dapat berpikir, membuat rencana, menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, self-control dari dorongan-dorongan emosi. Ketika bagian ini terimbas, kadang disebut dengan kondisi hypofrontality, dimana individu lebih kompulsif dan impulsive dalam konsumsi narkoba.


Konsumsi narkoba juga bisa mempengaruhi kesehatan neuron itu sendiri. Tidak mengherankan, karena si neuron dipaksa bekerja lebih dari apa yang mereka biasa lakukan. Sama seperti handphone, kalau kita pakai berlebihan ya lama-lama mulai banyak parts nya yang rontok. Ketika banyak sel neuron yang mati, bisa terjadi kondisi yang disebut Atrofi (menyusutnya volume otak) dan ini kondisi yang tidaklah ringan. Bisa jadi individu tersebut akan mengalami gangguan memori, seperti Alzheimer atau gangguan lainnya.







Adiksi dan gangguan mental lainnya.

Sangat erat kaitannya..!!! tidak bisa terpisahkan. Coba kita tengok dari bahasan dopamine di atas. Teori iregulasi dopamine juga ditemukan pada penderita skizofrenia. Halusinasi dan waham yang muncul disebabkan karena banjirnya dopamine di otak. Itu juga yang membuat obat-obatan antipsikotik tujuannya menekan dopamine tersebut. Dan kalau kita bayangkan kurang lebih jelas terlihat koneksinya, ketika seseorang high, dia bisa melihat stimulus yang netral menjadi lucu dan membuatnya tertawa, atau ketika dia melihat TV, seakan-akan menggunakan kacamata 4D, tokoh yang ada di TV menonjol keluar. Lebih lanjut, dopamine juga sangat terkait dengan sistem lain, seperti pergerakan. Misalnya pada gangguan Parkinson atau huntingtons (coba search di google ya). Dan pada gangguan depresi dan cemas, kadar dopamine juga ditemukan lebih rendah dibanding norma populasi.


Ditambah dengan menurunnya fungsi pada prefrontal cotex, membuat mereka yang terimbas adiksi narkoba akan menjadi semakin emosional. Banyak riset yang menyebutkan bahwa prefrontal cortex (PFC) adalah bagian otak yang sangat terkait dengan kontrol emosi. Dan kita tahu betul, bahwa salah satu yang membuat orang mengkonsumsi narkoba adalah To feel better. Ketika mereka tidak mampu mengkompensasi dan menghadapi rasa tidak nyamannya sendiri, entah itu emosi marah, sedih, kecewa, cemburu, dan lainnya. Maka narkoba terkesan menjadi pilihan yang masuk akal, karena bisa memberikan perasaan bahagia, senang serta gembira yang instan dan cepat.


Kapan-kapan kita bahas lebih detail yaa, utamanya berbagai karakteristik narkoba dan efeknya di otak…!!


Oleh Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog.

1 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua