Apa yang kamu yakini belum tentu benar

Coba ingat bagaimana dirimu 10 - 15 tahun yang lalu ? apakah kamu salah satu remaja yang percaya bahwa pakai gesper dan gelang berduri itu keren ? apakah kamu percaya bahwa tas sekolahmu harus ditempel emblem band punk untuk terlihat macho ? atau apakah kamu percaya (khusus perempuan) bahwa ke sekolah pakai kaus kaki sebetis itu akan terlihat cantik ?. Sekarang diusiamu yang sudah kepala 3 atau 4 bagaimana pendapatmu ? apakah kamu masih berpikir hal yang sama? tentunya tidak..!


Jika hanya soal dandanan mungkin itu tidak memiliki konsekuensi yang berat untuk kehidupan kita, namun bagaimana dengan hal lain. Bagaimana jika hal yang kamu percayai adalah bahwa kamu bukanlah auditory learner, sehingga kamu tidak mendengarkan gurumu dikelas. Kamu merasa lebih nyaman belajar dengan membaca karena kamu percaya kamu adalah visual learner. Terlebih kamu juga percaya bahwa kamu bisa belajar efektif ketika materi yang disajikan dapatt memanjakan matamu dengan gambar, infografis, atau video yang indah. Sehingga ketika nilaimu jelek yang kamu salahkan adalah, “materinya boring”, “cara ngajar gurunya kaku bet”, “buku-buku isinya tulisan doang”, “sekolah tidak mengakomodir visual learner seperti saya”. Bukannya berlatih keras dan mengubah diri, kamu malah terjerumus dengan pikiran tidak produkif tersebut dan tanpa sadar membuatmu melalui bulanan bahkan tahunan yang sia-sia belaka.


Tidakah kamu mengetahui bahwa otak kita tidak mengenal pembatasan yang disebutkan di atas, entah itu visual, auditory learner atau bahkan kinestetic learner1. Otak sangat terbuka dengan semua modalitas tersebut, malahan membuatnya bisa bekerja lebih kuat dalam menyimpan pembelajaran yang ada. Ingatanmu terhadap materi yang diajarkan oleh guru, termasuk ingatan tentang mantan pacarmu disimpan dan tersebar di banyak bagian otak. Otakmu bisa menyimpan sampai 2,5 petabytes (million gigabyets)2 . Potensi luar biasa tersebut dibatasi oleh keyakinanmu yang tidak ada buktinya tersebut.





Tulisan ini bertujuan untuk membuatmu menjadi individu yang tidak bodo amatan dengan apa yang ada dalam pikiranmu. Mulailah mempertanyakan apa yang muncul dibenakmu, yang kadang kamu sangat percayai namun tidak ada bukti konkritnya. Jadikan ini skema berpikirmu dalam pengambilan keputusanmu. Ingat, keputusan yang kamu ambil adalah karena kamu memiliki belief terhadap situasi tersebut. Jika kamu mempercayai bahwa tidak ada yang bisa membahagiakanmu kecuali dia (mantan pacarmu), maka bisa jadi kamu akan menyesali terus menerus mengapa kamu bisa putus dengannya. Kamu akan mencari cara untuk balikan dengannya atau bahkan kamu menutup diri untuk pengalaman baru karena kamu tenggelam dalam kesedihanmu sendiri.


Atau dikasus lain, seseorang bisa saja memaksa dirinya bermain sepakbola dan berhenti kuliah untuk mengejar karir sebagai pesepakbola. Dia sangat mempercayai bahwa menjadi sepakbola adalah satu-satunya jalan hidupnya. Padahal sejak kecil bermain bola dia tahu persis bahwa ia memiliki kapasitas fisik yang terbatas. Ia cepat lelah. Bahkan dibanding temannnya yang selalu merokok sebelum dan sesudah main bola, staminanya masih kalah jauh. Skill-nya pun tergolong biasa saja. Dia ikut latihan di klub sekolahnya secara rutin, namun tidak membuatnya lebih baik. Jika konteksnya seperti ini, keputusan yang ia lakukan untuk menjadi pesepakbola dan berhenti kuliah akan terdengar sangat emosional dan tanpa pertimbangan yang matang bukan?.


Sangat perlu mempertimbangkan dengan matang dari berbagai sudut pandang, konteks, dan variabel serta menggunakan data yang faktual. Sehingga, kesimpulan yang diambil sesuailah dengan realita yang ada. Tidak melebih-lebihkan atau sebaliknya, tidak juga membatasi. Atau bisa kita sebut dengan Rational thoughts. Kamu sangat bisa melakukan hal ini sendiri dengan mencoba menuangkannya ke dalam tulisan (agar tidak ada satu point pun yang terlihat). Kamu bisa buat dua kolom tabel sederhana, yang berisi bukti yang mendukung pikiran saya dan bukti yang tidak mendukung pikiran saya. Jangan terburu-buru dalam mengisinya, coba beri jeda beberapa hari agar dirimu bisa lebih reflektif dalam pikiran tersebut. Atau kamu bisa meminta bantuan orang lain untuk mereview tulisanmu tersebut.


Kamu juga bisa mencari mentor atau pembimbing yang lebih “tahu jalan” untuk bisa membuka wawasanmu dan membantu mengkonfirmasi apa yang kamu percayai dalam pikiranmu. Sama seperti pembimbing skripsi yang sudah membantu ratusan mahasiswa lulus. Dia sudah mengetahui apa yang dibutuhkan dan bagaimana proses penelitian berlangsung. Dia bisa mengoreksi dan mengarahkan jika ada salah dalam logika atau cara berpikirmu.


Oleh Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog

6 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua