Arti dan Bentuk Gaslighting

Gaslighting merupakan istilah yang saat ini cukup banyak digunakan saat ini. Gaslighting merupakan pola perilaku manipulasi psikologis, dimana pelaku gaslighting (gaslighter) meyakinkan korbannya bahwa apa yang korbannya yakini, rasakan dan pikirkan merupakan hal yang tidak sesuai dengan realita, sehingga tidak jarang korban akan mempertanyakan kewarasan dirinya. Pola perilaku manipulasi ini dapat memberikan efek negatif pada kondisi emosi korban.


Gaslighter berusaha membuat korbannya merasa tidak yakin dengan realita yang ia miliki, sehingga korban akan bergantung dan dapat dikendalikan oleh gaslighter. Kekuasaan dan kendali penuh atas diri seseorang merupakan tujuan utama yang ingin didapatkan oleh gaslighter.


Asal Usul “Gaslighting”

Istilah gaslighting pertama kali digunakan Patrick Hamilton pada 1938 sebagai judul dari sebuah pertunjukan yang kemudian pada tahun 1944 diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul yang sama. Gaslighting menceritakan mengenai kehidupan Paula dan suaminya yang berupaya meyakinkan Paula bahwa apa yang ia yakini, alami dan rasakan tidak sesuai dengan peristiwa nyata. Pola perilaku suaminya, membuat Paula mulai mempertanyakan realita dan kewarasan dirinya.





Stephanie Sarkis menyebut pola perilaku gaslighting sebagai pola perilaku unik yang persisten dan banyak ia temui pada kasus yang ditanganinya sebagai praktisi klinis. Pada bukunya yang berjudul “Gaslighting: Recognize Manipulative and Emotionally Abusive People – and Break Free”, Sarkis menyebutkan bahwa seorang gaslighter akan berusaha meyakinkan kita bahwa kita tidak waras, kita adalah orang yang bermasalah, kita adalah orang yang menyusahkan dan tidak ada yang menginginkan atau menerima kita.


Sampai saat ini gaslighting belum termasuk di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang dibuat oleh American Psychiatric Associations. Meskipun begitu, Sarkis mengatakan bahwa gaslighting dapat menyerupai beberapa gejala dari gangguan kepribadian pada DSM, salah satunya adalah narcissistic personality disorder.


Bentuk Perilaku Gaslighting

Gaslighting dapat dilakukan oleh siapa saja seperti politisi, selebriti, rekan kerja, atasan kerja, saudara kandung, orangtua atau bahkan pasangan. Sarkis menyebutkan terdapat beberapa tanda seseorang melakukan gaslighting. Berikut adalah tujuh tanda perilaku gaslighting yang dapat kita waspadai:


1. Berbohong secara terang-terangan

Saat kita tahu dan yakin gaslighter berbohong, ia akan tetap mempertahankan dan mengatakan kebohongannya seakan ia tidak berbohong. Sehingga tidak jarang kita akan merasa ragu dengan keyakinan yang kita miliki. Pola ini dilakukan agar saat gaslighter membuat kebohongan lain yang lebih besar, kita akan merasa ragu mengenai apakah ia berbohong atau tidak dan mempertanyakan realita yang sebenarnya kita alami.

2. Menyangkal meskipun kita memiliki bukti nyata

Tidak jarang gaslighter akan menyangkal dengan kuat apa yang telah ia katakan dan kita dengar dengan jelas. Hal ini akan memunculkan rasa ragu dan bingung di dalam diri kita. “Mungkin, aku salah dengar?” atau “Mungkin aku salah memahami?” adalah pernyataan yang mungkin akan sering kita alami saat berhadapan dengan seorang gaslighter. Perlahan-lahan kita akan mulai sering mempertanyakan realita kita dan menerima realita yang diinginkan oleh gaslighter.

3. Mengatakan orang lain mendukung realitanya

Gaslighter ahli dalam melakukan manipulasi dan meyakini bahwa orang yang berpihak dengan mereka akan tetap berpihak padanya apapun yang terjadi. Biasanya mereka akan menggunakan orang lain (khususnya yang berpihak padanya) untuk mengatakan bahwa mereka juga memiliki opini yang sama dengan mereka. “X tau kalau kamu emang kadang ga waras” atau “Y juga ngerasa kalau kamu sebetulnya nyusahin”. Perlu diingat bahwa gaslighter sering berbohong atau mengatakan hal yang tidak selaras dengan realita. Gaslighter menggunakan cara ini untuk membuat kita merasa ragu harus mempercayai siapa dan pada akhirnya akan memilih untuk mempercayai gaslighter. Semakin kita terisolasi dari lingkungan sosial kita, semakin besar kendali yang diperoleh oleh gaslighter.

4. Proyeksi

Seringkali gaslighter akan memproyeksikan perilaku atau perasaannya pada kita. Salah satu contohnya, apabila dia berselingkuh dia akan mengatakan bahwa kita yang berselingkuh. Proyeksi dilakukan agar fokus kita teralih pada upaya untuk membela diri kita, tidak pada perilaku gaslighter.

5. Mereka akan mengatakan bahwa kita atau orang lain tidak waras

Cara ini merupakan strategi yang sering digunakan oleh gaslighter. Gaslighter paham apabila kewarasan kita dipertanyakan, maka orang lain tidak akan percaya kekerasan atau perlakuan yang kita alami dari gaslighter. Cara ini adalah senjata utama dari seorang gaslighter.

6. Memberikan pujian atau bersikap baik untuk membuat kita bingung

Gaslighter dapat tiba-tiba memberikan pujian atau menunjukkan sikap baik kepada kita, setelah sebelumnya ia memperlakukan kita sebaliknya. Perilaku tersebut dapat membuat kita merasa tidak nyaman atau membuat kita berpikir “Mungkin dia ga seburuk yang aku pikirkan”. Pola perilaku ini menurunkan kewaspadaan kita dan lagi-lagi mempertanyakan realita yang sebenarnya kita rasakan.

7. Gaslighter membuatmu merasa lelah

Hal yang paling berbahaya dari gaslighting adalah peningkatan perilaku yang secara bertahap seiring waktu. Pada awalnya gaslighting dilakukan dalam skala kecil, namun seiring waktu berjalan skala gaslighting akan meningkat secara bertahap. Kebohongan dan keraguan akan realita yang terjadi secara presisten akan membuat siapapun merasa lelah.

Manipulasi dalam gaslighting biasanya terjadi secara perlahan dan tersembunyi, bahkan tanpa disadari oleh korban. Saat korban semakin bergantung pada gaslighter, maka semakin besar kendali yang mereka miliki pada korban. Kekuasaan dan kendali tersebut merupakan hal yang paling diinginkan oleh para gaslighter.

Referensi :

8 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua