Inilah Penyebab Seseorang Tidak Taat Prokes (Protokol Kesehatan)

"Dia selalu begitu, dia tidak pernah berubah..!!!”, kalimat yang mungkin sering kita ucapkan kepada pasangan kita. Memang mengubah individu tidak semudah gonta-ganti username di akun media sosial kita. Perlu pemahaman dan strategi yang jitu untuk bisa tercapai. Hal ini yang sepatutnya kita korelasikan pada fenomena perilaku masyarakat Indonesia menghadapi gejolak pandemi Covid-19 ini. Ada beberapa yang sama sekali tidak mematuhi protokol kesehatan, bahkan mengeluh atau marah ketika diingatkan oleh orang lain. Mengapa bisa begitu? Yuk kita coba kupas sedikit di tulisan ini.


Masih kembali ke teori CBT (Cognitive Behavior Therapy) bahwa yang mempengaruhi perilaku dan emosi kita adalah bagaimana kita menginterpretasi sesuatu, atau menurut Albert Ellis disebut dengan Belief. Hal ini pulalah yang terjadi pada masyarakat kita, beberapa individu memiliki belief tertentu terkait isu Covid ini. Belief yang tekait terhadap isu kesehatan disebut juga sebagai Health Belief Model yang dikembangkan tahun 1950-an oleh psikolog sosial di U.S. Public Health Service (1).





Health Belief Model atau disingkat HBM adalah bagaimana keyakinan individu pada personal threat atau ancaman pribadi dari suatu penyakit (2). Keyakinan ini muncul bersaman dengan keyakinannya pada efektivitas perilaku atau tindakan kesehatan yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan (atau mungkin dalam kasus Covid 19 ini termasuk didalamnya adalah pemerintah). Derajat keyakinan ini digunakan untuk memprediksi kemungkinan individu mengadopsi perilaku yang diharapkan.


Ada enam konstruk dari HBM, yaitu :

  1. Perceived Severity, probabilitas individu mengubah perilaku kesehatan mereka bergantung seberapa serius mereka percaya akan konsekuensinya. Jika seseorang percaya bahwa mencium pasangannya yang sedang flu hanya akan beresiko maksimal tertular flu yang sama maka ia tidak akan ragu melakukannya. Tapi berbeda jika resiko penyakit yang muncul lebih berat. Pada kasus Covid 19, bisa jadi karena beberapa orang pecaya bahwa ini cuma sekedar flu biasa dan tidak mematikan, maka ia cenderung menganggapnya remeh.

  2. Perceived Susceptibility, individu tidak akan mengubah perilaku kesehatan mereka kecuali mereka percaya bahwa mereka memang berisiko. Misalnya, seorang remaja yang percaya kalau dia tidak beresiko menderita penyakit kanker paru-paru, maka sangat kecil kemungkinan mereka akan berhenti merokok. Atau pada kaitannya dengan Covid 19, ketika mereka percaya bahwa sebagai anak muda mereka memiliki imun yang lebih kuat dan tidak rentan tertular, maka bisa jadi mereka dengan percaya dirinya akan melanggar prokes dan tetap berkumpul dengan teman-temannya.

  3. Perceived Benefit, sulit untuk meyakinkan individu untuk mengubah perilaku jika tidak ada "sesuatu" sebagai imbalannya. Misal, seseorang mungkin tidak akan berhenti mengkonsumsi junk food atau soda , jika mereka tidak berpikir dan percaya bahwa ini bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Termasuk di dalamnya persepsi tentang efektivitas dari perilaku. Dalam pandemi Covid 19, bisa jadi juga banyak orang yang tidak menemukan apa untungnya mengikuti protokol, justru malah mereka melihat ini sebagai rintangan mereka untuk bekerja dan mencari nafkah. Hal ini sangat terkait dengan point ke empat dibawah ini.

  4. Perceived Barriers, salah satu alasan utama individu tidak mengubah perilaku kesehatan mereka adalah karena mereka pikir melakukannya akan sulit. Mengubah perilaku kesehatan Anda dapat menghabiskan tenaga, uang, dan waktu. Memakai masker bagi beberapa orang akan sangat mengganggu aktifitas mereka. Plus mereka perlu merogoh kocek lagi untuk membelinya. Apalagi terkait dengan lockdown ketika mereka harus membatasi atau bahkan menutup kegiatan bisnis mereka, maka kerugian yang dibayangkan akan jauh lebih memberatkan dari sekedar masker. Faktor ekonomi Ini yang mungkin menjadi salah satu rintangan yang paling memberatkan bagi masyarakat.

  5. Cue to Action. Isyarat yang diperlukan untuk memicu proses perubahan perilaku kesehatan dari ingin sampai benar melakukannya. Isyarat dapat bersifat internal (misalnya, nyeri dada, dll.) & eksternal (misalnya, nasihat sesorang, penyakit dikeluarga, artikel surat kabar, promosi billboard, dll.). Disini mungkin hal menjadi lebih kompleks. Masyarakat disajikan dengan berita yang simpang siur, mulai dari berita bagaimana penularan Covid 19, bagaimana mencegah, pengobatan efektif, sampai pada regulasi pemerintah terkait lockdown. Semunya begitu membingungkan, terlebih dizaman media sosial ini dimana semua orang bisa bicara dan bisa meneruskan berita. Terlebih makin diperparah dengan adanya berita hoax yang informasinya misleading.

  6. Self-Efficacy. Hal ini mengacu pada tingkat kepercayaan seseorang dalam kemampuannya untuk berhasil melakukan suatu perilaku. Bisa jadi banyak dari kita yang memang tidak meyakini kalau kita bisa mengikuti berbagai protokol kesehatan (sekarang dari 3M sudah menjadi 5M) namun juga bisa tetap berfungsi baik secara psikologis dan juga finansial. Self-efficacy sendiri bisa dipengaruhi dari satu atau lebih dari kombinasi empat sumber ini : mastery experiences, social modeling, social persuasion dan physical & emotional states (3), detailnya akan saya bahas di tulisan berikutnya ya.


Meskipun teori HBM sendiri sebenarnya memiliki banyak limitasi, banyak aspek yang tidak dibahas disini. Misalnya saja, faktor penerimaan sosial yang bisa sangat berpengaruh pada keputusan individu terkait kesehatannya (4). Aspek lain seperti kepribadian tertentu juga kurang bisa tergambarkan dalam HBM. Individu yang memiliki tipe kepribadian paranoid akan sangat mencurigai berbagai regulasi yang dibuat oleh pemerintah. Atau individu yang memiliki kecenderungan kepribadian antisocial akan membuatnya cenderung against law. Jika regulasi pemerintah dianggap mengganggu kepentingan pribadinya, maka sabodo teuing (bodo amat).


Akan tetapi, enam konstruk HBM juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Sangat amat bisa dijadikan sebagai bahan kontemplasi para pemimpin kita untuk bisa mengambil keputusan baik dalam tingkat nasional maupun tingkatan regional yang lebih kecil. Saya pikir akan sangat bermanfaat jika para pengambil keputusan melibatkan ilmu psikologi, utamanya dari mereka yang mendalami psikologi sosial, karena banyak teori-teori mumpuni yang sifatnya makro atau kolektif. Dimana pada masa sulit seperti ini keputusan yang diambil akan sangat sensitif dan berpengaruh terhadap masyarakat. Akhir kata, tetap ikhtiar dengan mengikuti prokes yang direkomendasikan dan berdoa semoga kita diberi kemudahan serta kekuatan melewati ini semua.


Referensi :


  1. Janz, Nancy K.; Marshall H. Becker (1984). "The Health Belief Model: A Decade Later". Health Education & Behavior. 11 (1): 1–47.

  2. The Health Belief Model as an explanatory framework in communication research: Exploring parallel, serial, and moderated mediation. Health Commun. 2015;30(6):566-576. doi:10.1080/10410236.2013.873363

  3. Feist, J., Feist, G.J., Roberts, T. (2017). Theories of Personality 9th edition. McGraw Hill : New York.

  4. https://sphweb.bumc.bu.edu/otlt/mph-modules/sb/behavioralchangetheories/behavioralchangetheories2.html

8 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua