Search

Pikiran Konspirasi

Belakangan ini, di tengah keberlangsungan pandemi virus corona, banyak beredar cerita mengenai konspirasi virus tersebut. Banyak orang yang percaya bahwa virus ini diciptakan untuk kepentingan dan keuntungan pihak tertentu. Teori konspirasi yang beredar di antaranya menyatakan bahwa virus ini berasal dari laboratorium di Wuhan sebagai senjata biologis; diciptakan oleh Bill Gates dan organisasi kesehatan dunia WHO untuk kepentingan bisnis (Nurlatifah, 2020); sengaja diciptakan untuk kepentingan politik, atau bahkan berasal dari luar angkasa (Mahardhika, 2020). Teori-teori ini bisa saja benar, namun bisa juga salah. Belum ada penelitian yang dilakukan untuk membuktikan kebenaran teori konspirasi ini, dikarenakan kurangnya bukti yang kuat. Walaupun kebenarannya belum terungkap, ternyata tidak sedikit orang yang sudah mempercayainya. Nah, pada artikel ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk sama-sama belajar, sebenarnya apa itu teori konspirasi? mengapa sebagian orang mempercayainya? bagaimana kaitannya dengan aspek kognitif manusia? apa saja kemungkinan dampak yang diakibatkannya? dan hal apa saja yang dapat kita lakukan dalam menghadapi isu konspirasi ini? Yuk kita simak, cekidot!


Definisi umum dari teori konspirasi adalah keyakinan bahwa sekelompok orang atau organisasi secara diam-diam atau secara rahasia merencanakan suatu peristiwa dengan tujuan mencapai beberapa tujuan kejahatan (Bale, 2007). Oliver & Wood (2014) mengidentifikasi bahwa teori konspirasi biasanya muncul selama masa krisis, seperti periode ketidakstabilan politik, ekonomi, dan krisis kesehatan masyarakat termasuk di dalamnya wabah penyakit. Jika tidak berhati-hati, percaya pada teori konspirasi dapat saja menimbulkan kerugian, itulah sebabnya kita perlu mempelajarinya. Dengan lebih memahami bagaimana kemunculan dan penyebaran teori konspirasi, kita lebih dapat menanggulangi dampak kerugiannya seperti dengan mengusulkan langkah-langkah konkret untuk lebih mendidik masyarakat dan mencegah mereka mudah terpancing oleh narasi ini.


Mengapa sebagian orang percaya pada teori konspirasi?

Menurut Jost, Ledgerwood, dan Hardin (2008 dalam Douglas, Sutton, & Cichocka, 2017) ada tiga hal yang membuat sebagian orang lebih tertarik pada teori konspirasi dibandingkan dengan penjelasan non konspirasi. Pertama, teori konspirasi lebih menarik bagi banyak orang karena dianggap dapat memuaskan keinginan untuk menjaga citra positif pada diri atau kelompok. Menurut Meagan (2020), hal ini berkaitan dengan keterikatan manusia sebagai suatu kelompok. Manusia selalu hidup dalam kelompok, suku, atau komunitas. Menjadi bagian dari kelompok yang percaya pada satu hal tertentu dapat memberikan rasa kebersamaan dan rasa memiliki. Hal ini juga membantu manusia memenuhi salah satu psychological needs menurut Maslow, yaitu belongingness (merasa termasuk dalam suatu perkumpulan). Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki kepercayaan yang sama, tidak peduli seberapa aneh dan tidak rasionalnya, membantu kita untuk merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu.


Hal tersebut bisa dijelaskan dengan teori identitas sosial. Individu membentuk suatu kelompok karena menganggap diri mereka sebagai anggota dari kategori sosial yang sama, dan karenanya berbagi identitas sosial (Turner & Reynolds, 2011 dalam Everett, Faber, dan Crockett, 2015). Dalam teori identitas sosial, terdapat