Search

Resiliensi dalam Menghadapi “New Normal”

Kurang lebih tidak terasa sudah lima bulan, terhitung hingga saat ini masyarakat Indonesia menghadapi pandemi covid-19. Pandemi yang menyerang dunia ini berdampak pada segala aspek aktivitas manusia, sehingga kini perilaku manusia mulai bergeser dan mengalami perubahan sebagai bentuk penyesuaian di masa krisis. Untuk mencegah meluasnya penularan virus, banyak kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti pembelajaran jarak jauh, aturan jumlah SDM yang harus dibatasi untuk pengoperasian perusahaan, dan lain-lain sebagaimana diatur dalam aturan terbaru Permenkes nomor 9 tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB akan terus dilaksanakan selama jumlah korban pandemi ini masih terus mengalami peningkatan.


Fokus utama penyelenggaraan PSBB adalah daerah-daerah yang padat penduduk, atau pun daerah yang terdeteksi memiliki jumlah pasien positif yang tidak sedikit. Bahkan PSBB mengatur secara spesifik bidang industri termasuk dalam pengecualian selama masa PSBB di masa pandemi covid-19 ini dan juga menerapkan aturan selama berkendara, seperti jumlah maksimal orang yang boleh berada di dalam mobil. Durasi waktu yang mulanya beberapa minggu terus bertambah hingga berbulan-bulan dan menyebabkan masyarakat mulai mempertanyakan “kapan pandemi ini akan berakhir?”, sehingga semuanya dapat kembali beraktivitas seperti biasa, seperti dulu lagi. Apakah nantinya manusia akan dapat hidup normal kembali, atau mungkin, akan ada kehidupan normal yang “baru” sebagai efek dari penyesuaian manusia dengan virus tak kasatmata yang sedang dihadapi?


Nah, saat ini masyarakat dan media massa ramai membicarakan mengenai kebijakan pemerintah untuk menerapkan sistem “New Normal”, atau tatanan kehidupan normal yang baru. Pemerintah sudah mulai menggaungkan frasa “new normal” yang artinya kondisi ketika masyarakat seharusnya sudah mulai menjalankan aktivitas serupa dengan yang biasa dahulu kita lakukan namun dengan standar normal yang baru: Covid-19 tetap ada, perilaku kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker ketika bepergian, menjaga jarak, dan lain-lain harus tetap dilakukan. Lalu mengubah pola kerja yang awalnya harus dari pagi hingga sore di kantor menjadi work from home, sistem pendidikan yang biasanya harus dilakukan di tempat menjadi e-learning, orang-orang yang cenderung sering memakan junk food mulai menerapkan pola hidup sehat, bahkan muncul juga istilah konser online, dan lain sebagainya. Sebenarnya ini bukan kali pertama konsep new normal diterapkan.


New normal sendiri dilakukan untuk memberikan respons dan sebuah pilihan dalam menghadap