Search

Tahukah Kalau Virus Toxoplasma Gondii dapat Mempengaruhi Kognitif Manusia??

Toxoplasmosis merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii merupakan parasit yang dapat menginfeksi manusia, khususnya pada individu rentan dan beresiko seperti pada bayi, ibu hamil, dan individu yang memiliki sistem imun rendah. Infeksi Toxoplasma gondii bersifat asimtomatik, artinya gejala-gejala infeksinya tidak terlihat. Lalu, apakah infeksi Toxoplasma gondii tidak hanya berkaitan dengan pengaruh fisik saja, tetapi juga berpengaruh pada aspek psikologis seperti perilaku kognitif manusia?


Toxoplasma gondii merupakan sebuah parasit yang dapat hidup di mamalia berdarah panas, termasuk manusia. Pada manusia, infeksi terjadi melalui kontak dengan feses hewan yang terinfeksi parasit tersebut, khususnya pada hewan kucing. Pada hewan kucing, biasanya ditemukan infeksi Toxoplasma gondii karena parasit tersebut bisa menyempurnakan siklus hidupnya. Bukan hanya dari kucing saja, infeksi pada manusia juga dapat terjadi lewat kontak langsung dengan daging yang terinfeksi, khususnya daging babi. Selain itu, infeksi juga bisa terjadi lewat konsumsi daging yang belum matang dan meminum susu kambing yang belum dipasteurisasi, atau sayur dan buah-buahan yang belum dicuci.


Sudah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa penyakit toxoplasmosis berkaitan dengan munculnya berbagai gangguan psikiatri, yaitu depresi, skizofrenia, dan bunuh diri (Hutajulu & Hutajulu, 2019). Infeksi parasit toxoplasma menyebabkan gangguan keseimbangan neurotransmitter dopamin, serotonin, dan glutamat. Infeksi ini juga menyebabkan kerusakan pada sel glial, amigdala, dan korteks prefontal, sehingga menimbulkan suasana hati depresif dan apabila tidak ditangani dengan terapi maka akan muncul pikiran bunuh diri (Hutajulu & Hutajulu, 2019). Kita tahu betul, serotonin adalah neurotransmitter di otak yang mempengaruhi salah satunya mood kita. Banyak riset yang menyebutkan penderita depresi mengalami kondisi defisiensi serotonin. Bahkan obat-obatan psikiatripun seperti SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibit) menyasar serotonin supaya lebih banyak tersedia di celah neuron (sinaps), sehingga bisa meningkatkan mood pasiennya.


Lalu bagaimana dengan skizofrenia? Apakah bisa toxoplasmosis menyebabkan gangguan berat seperti itu?? Kalau ada potensi mengganggu neurotransmitter dopamin jawabannya bisa saja. Karena memang ketidakseimbangan dopamin dapat berperan dalam munculnya skizofrenia (Creese et al. Sawa & Snyder, dalam Flegr, 2007).